Tuesday, May 22Kita mulai dari sini...

Ulama Dibabat, Pendeta Disikat, 2019 Mendekat

Penulis: Abu Duda 

 

Kurun 3 pekan akhir, Indonesia diwarnai penyerangan ulama yang memakan korban jiwa. Penyerangan dengan modus yang sama yaitu modus ‘orang gila. Belum lepas masa-masa berkabung itu, muncul lagi penyerangan terhadap pemuka agama di gereja.

Tentu yang jadi pertanyaan, bukan apa motif si yang katanya orang gila itu. Namun, skenario apa yang sedang dimainkan oleh ‘invisible power’.

Ya, sebut saja invisible power. Sebab saya tak terlalu yakin kalau semua rangkaian penyerangan ini tidak dibangun dibalik power. Power siapa? Entahlah. Saya enggan menduga terlalu jauh. Apalagi sekarang ini kritik ilmiah bisa dibilang hate speech.

Yang jelas hal ini tentu bukan hanya menimbulkan kecurigaan dan keresahan antar masyarakat. Terlebih keresahan umat beragama untuk merasa aman dalam menjalankan kehidupan keseharian sebagai penganut agama yang taat. Bisa jadi kejadian-kejadian ini digiring pada suatu kondisi untuk adu domba antar umat beragama.

Hipotesa saya saat ini adalah dalang dibalik kasus-kasus ini tentu adalah suatu poros kekuatan yang ingin mengambil kesempatan dalam suasana genting menjelang tahun politik.

Tentunya Polisi sebagai aparat penegak hukum tidak bisa mengartikan ini kasus yang biasa-biasa. Apalagi sekedar bilang ini adalah murni karna orang gila. Atau kasus yang acak. Atau bahkan seolah berat sebelah dalam memperlakukan kasus.

Sumber: google

 

(Baca: Kapolri: Penganiayaan Sejumlah Ustaz Kasus Kriminal Biasa, Kapolri: Penyerang Gereja Sleman Terpengaruh Paham Radikal)

Seperti hal nya contoh pernyataan Jenderal Kapolri Tito Karnavian dalam dua artikel tersebut menyebutkan bahwa penyerangan pada ustad adalah kasus kriminal biasa, sedangkan penyerangan pada pastur adalah karena paham radikal.

Gunakan sebentar saja akal sehat kita. Ini kurang lebih dapat dilihat sebagai penggiringan opini yang ingin menyudutkan umat agama tertentu dengan trend kata ‘radikal’. tapi entahlah, saya hanya seorang pembaca berita yang punya hak untuk menilai isi berita tersebut.

Konspirasi besar

Saya seorang yang punya minat besar terhadap teori konspirasi. Sehingga acuan dasar melihat kejadian ini tentu bagi saya adalah adanya sebuah konspirasi.

Bukan barang baru kalau setiap menjelang tahun politik, kisruh, rusuh dan kawan-kawannya menjadi konsumsi rutin. Pertanyaannya adalah sampai kapan skema seperti ini mau di pertahankan? Apalagi mengaku negara dengan Pancasila.

Pancasila dalam framework politiknya mensyaratkan sebuah hikmah kebijaksanaan. Artinya rakyat dalam menitipkan kedaulatan pada wakil-wakilnya adalah untuk kemudian mencari hikmah. Sehingga bukan seperti sekarang ini mesin-mesin politik seperti partai menjadi pusat utama pada peta kekuatan massa. Kedaulatan rakyat tidak bertumpu lagi pada hikmah. Semua saling sikut untuk berkuasa. Antar lembaga pemerintah tidak ada sinergi dan cenderung berjalan sendiri-sendiri, dengan tujuan masing-masing pula.

Masih bisa ini dikatakan negara Pancasila? Disaat pemerintah getol meneriakan setia pada Pancasila. disaat wakil-wakil rakyat juga hanya mementingkan kepentingan  partai mereka. Ini sebuah nasib ironi negara pancasila, minim implementasi real diberbagai aspek. Pancasila sekarang dijual untuk menyelamatkan kekuasaan segelintir orang saja.

Hikmah tidak mungkin hadir dari hasrat individualistis. Hikmah tidak lahir dengan hasrat untuk berkuasa dan memperkaya diri sendiri. Hikmah mustahil hadir dalam pemisahan agama dan negara.

Kali ini para konspirator yang sedang bermain jangan sampai blunder. Kemarin-kemarin kiranya masyarakat terus bersabar. Tapi jangan sampai karena demi kepentingan segelintir orang, terjadilah perang besar diantara anak bangsa. Mengerikan.

Atas kondisi ini yang senang para lacur kepentingan. Para predator kekuasaan. Kekuasaan kadang membuat orang takut untuk kehilangan atasnya. Waspadalah! Waspadalah!

 

Leave a Reply

%d bloggers like this: