Monday, November 20Kita mulai dari sini...

Tragedi Mei 1998 vs 4 November 2016

Aksi 13-15 Mei 1998 adalah sebuah sejarah kelam bagi masyarakat Indonesia. Kerusuhan yang dianggap awal dari sebuah perubahan namun malah membuat sebagian rakyat Indonesia menderita. Sekedar mengingatkan pada tahun 1998 tepatnya bulan Mei terjadi kerusuhan yang disebabkan oleh krisis finansial wilayah Asia, kemudian penembakan empat aktivis muda yang berasal dari kampus Trisakti dan menurunkan presiden Soeharto dari jabatannya.

Protes pertama dilakukan oleh mahasiswa Universitas Indonesia pada tanggal 5 maret di gedung MPR/DPR, tuntunan yang dilayangkan oleh mahasiswa adalah penolakan laporan penanggung jawaban presiden Soeharto, aksi ini tidak dihiraukan oleh ketua MPR pada saat itu, Harmoko malah melantik kembali Presiden Soeharto. Amarah mahasiswa semakin menjadi ketika adanya penembakan ditanggal 12 mei tepatnya di kampus Trisakti. pada tanggal 13 Mei mahasiswa tumpah ruah di jalanan ibukota.

Ironisnya peristiwa ini mencatat tidak kurang 288 orang korban meninggal, 101 korban luka, 92 orang wanita menjadi korban pemerkosaan, Ratusan rumah serta puluhan Mall / Dept. Sore terbakar. Kerugian fisik diperkirakan mencapai Rp 2,5 Triliun.

Aksi 4 November 2016 terjadi di Jakarta, seperti yang dilansir oleh Antara News, Sekjen FPI (Front Pembela Islam) Novel Bamukmin mengatakan “Demo 4 November adalah demo susulan dari demo sebelumnya dan ini akan melibatkan masyarakat Islam dari segala penjuru” ujar Bamukmin.

Demo 4 November ini juga mempunyai tujuan bahkan tuntutan langsung dari FPI yaitu agar Gubernur Basuki Tjahaja Purnama diproses secara huku dan diturunkan dari jabatannya karena Ahok telah melakukan dugaan penistaan agama.

Aksi demo ini pun mengundang perhatian khalayak umum, masyarakat takut akan pengulangan tragedi Mei 1998. Adapun masyarakat yang memanfaatkan aksi 4 November, adanya perbuatan vandal dan penjarahan minimarket. Namun Polisi juga tidak berdiam diri mereka melakukan pengamanan di berapa wilayah penting dengan mengerahkan satuan satuan Brimob dan Densus 88 untuk menjaga aksi damai 4 November 2016.

Sedikit persamaan antara aksi Mei 1998 dengan 4 November 2016 ini, tuntutan yang dilakukan adalah sama ketika sama-sama ingin menurunkan pemimpin. Namun masyrakat haruslah kritis apakah ini semua hanya propagandan segelintir oknum? karena sudah mendekati pilkada DKI. Apakah sistem pilkada langsung seperti ini sudah memberikan masyarakat pemimpin yang benar-benar membela rakyat, atau hanya akan merugikan masyarakat karena hal-hal seperti ini harusnya berada diranah mereka para wakil rakyat.

Leave a Reply

%d bloggers like this: