Monday, November 20Kita mulai dari sini...

TNI dan Pengelolaan Wilayah Perbatasan (I)

Sudah cukuplah kiranya selama ini kita saling tunjuk hidung mengapa wilayah perbatasan bisa sekumuh itu. Sudah cukuplah kiranya bersilat lidah mengenai penyebab-penyebabnya dan  siapa-siapa saja yang paling bertanggung-jawab. Nyatanya, sampai hari ini, wujud kedaulatan Republik Indonesia yang paling setia hadir di wilayah-wilayah perbatasan adalah TNI. Oleh karena itu, jika tidak mau sendiri hadir di sana, cukuplah memberi dukungan nyata—artinya, tentu saja, tidak sekadar dukungan moril, apalagi sekadar cenderamata dan karangan bunga—pada TNI baik sebagai institusi maupun orang-perorang prajurit-prajuritnya dalam menjalankan tugas negara menegakkan kedaulatan efektif di wilayah-wilayah perbatasan itu.

Pengelolaan Perbatasan. Suatu Perspektif Militer

Jika benar TNI dipercaya dan didukung secara nyata untuk menjalankan fungsi-fungsi “pemerintahan” yang khas dan unik untuk wilayah-wilayah perbatasan, maka strategi-strategi berikut ini, dari sudut pandang militer, merupakan syarat-syarat utama bagi terciptanya pemerintahan yang efektif di wilayah-wilayah tersebut.

  1. Pembangunan pangkalan militer di perbatasan
    Dari jaman sebelum Masehi sampai abad ke-21 begini, namanya wilayah perbatasan memang selalu liar dan terpencil. Apa solusi Kekaisaran Romawi untuk itu? Bangun pangkalan militer! Semakin liar dan terpencil perbatasan itu, semakin besar pangkalan militernya. Nyatanya, kebanyakan kota besar modern di kepulauan Inggris—dahulu adalah perbatasan Romawi yang paling liar dan terpencil—berawal sebagai pangkalan-pangkalan militer Romawi. Prajurit-prajurit dan keluarganya yang menghuni pangkalan itu tentu memiliki kebutuhan sehari-hari. Penduduk sekitar dapat memenuhinya. Semakin lama, orang-orang dari tempat jauh akan berdatangan menyemarakkan kehidupan di sekitar pangkalan.
  2. Infrastruktur transportasi sebagai batas negara
    Masih menggunakan Romawi sebagai contoh, kita sering mendengar ungkapan “banyak jalan menuju Roma.” Pertanyaannya, kalau begitu dari mana jalan-jalan itu berasal? Dimulai pada 122, Kaisar Hadrian membangun tembok keliling—bukan sekadar patok—untuk menandai perbatasan-perbatasan terluar kekaisarannya, yang membentang sejauh Irlandia di barat, Skandinavia di utara, Sungai Danube di timur dan Afrika Utara di selatan. Di bagian dalam tembok itu dibangun jalan-jalan raya, juga berkeliling. Semua jalan inilah yang akhirnya menuju Roma, sehingga memudahkan koordinasi militer dan pemerintahan. Belakangan, infrastruktur transportasi ini juga vital artinya dalam membangun perekonomian Romawi yang makmur beratus-ratus tahun lamanya.
  3. Infrastruktur telekomunikasi andal di perbatasan
    Pada jaman Romawi, jalan-jalan mereka yang terkenal lebar-lebar dan rata, ditambah pos-pos pemberhentian kuda di banyak titik, selain merupakan sarana transportasi sekaligus adalah sarana telekomunikasi yang paling andal ketika itu. Di abad Internet ini, pemerintah seharusnya berinvestasi sebanding dengan apa yang dilakukan Kekaisaran Romawi dahulu untuk membangun jaringan telekomunikasi paling andal justru di perbatasan. Tentu saja, jika kebijakan ekonomi yang ditempuh sekadar memfasilitasi “pasar,” tidak akan ada setetes modal pun bagi perbatasan yang sudahlah terpencil liar pula. Investasi publik, karena itu, harus mengambil prakarsa!

Leave a Reply

%d bloggers like this: