Thursday, February 22Kita mulai dari sini...

Tag: Indonesia

Mahasiswa Gugat UKT, Siapa yang Salah?

Mahasiswa Gugat UKT, Siapa yang Salah?

Hankam, Ideologi, Kesra, Kronik
Akhir-akhir ini berbagai mahasiswa di berbagai Universitas melakukan aksi gugatan kebijakann Uang Kuliah Tunggal (UKT). Para mahasiswa menilai bahwa dengan adanya sistem UKT justru makin mempermahal biaya pendidikan. Lalu siapa dalang masalah pendidikan yang mahal ini? Sebagai konsekuensi atas penerapan ideologi neoliberalme, IMF dan World Bank meluncurkan paket kebijakan untuk menyokong pendidikan tinggi di negara-negara berkembang. Indonesia termasuk salah satu negara yang mengalami penyesuaian struktural tersebut, yang salah satunya ditandai dengan reformasi paradigma di periode 1994-2010. Pada Mei 2005, Indonesia sebagai anggota WTO, terpaksa harus menandatangani General Agreement on Trade Service(GATS) yang mengatur liberalisasi perdagangan 12 sektor jasa, antara lain layanan keseh...
Sudahkah Tax Amnesty Tepat Sasaran

Sudahkah Tax Amnesty Tepat Sasaran

Ekku
Sistem pengampunan pajak atau yang sering disebut tax amnesty telah dilakukan oleh Indonesia. Dampak dari pelaksanaan tax amnesty telah memberikan pro dan kontra untuk sektor perekonomian Indonesia untuk sementara ini. Nilai 2% - 5% yang dibebankan kepada pembayar tax amensty ini, diharapkan oleh pemerintah memberikan dampak positif. namun muncul banyak pandangan yang menganggap pemerintah tidak mempunyai solusi akan krisis ekonomi yang berada di Indonesia sehingga melakukan sistem pengampunan pajak. Hal ini juga memberikan sebuah rasa kecemburuan akan warga yang taat pajak dengan warga yang akan diampuni pajaknya. Program tax amnesty ini bukanlah program baru tetapi wacana yang sudah lama dirancang oleh pemerintah. Indonesia pernah menerapkan amnesty pajak pada 1984. Namun pelaksana...
Cerminan Demokrasi Hari Ini

Cerminan Demokrasi Hari Ini

Polkum
Krisis seakan mengancam kehidupan demokrasi hari ini. Bertahun-tahun pemerintahan demokratis diperjuangkan oleh gerakan  reformasi dengan keringat dan darah. Namun, ketika kesempatan itu diraih, politik dirasa kurang berkhidmat bagi kepentingan orang banyak; aparatur negara sejauh ini belum mampu menegakkan hukum dan ketertiban; politisi dan pejabat negara kurang memperhatikan visi dan wawasan perjuangan; perilaku politik dan birokrasi tercerabut dari etika seperti terpisahnya air dengan minyak. Adapun orang-orang yang menggenggam otoritas justru saling bertikai, berlomba menghancurkan kewibawaan negara. Yang lebih buruk lagi, pada titik genting krisis multidimensi ini, para penyelenggara negara dan masyarakat politik justru seperti kehilangan rasa krisis dan rasa tanggung jawab. Ke