Wednesday, October 18Kita mulai dari sini...

Stop Terjebak Jual Bahan Mentah

Sumber daya alam, yang meliputi tanah dan kekayaan alam seperti kesuburan tanah, keadaan iklim/cuaca, hasil hutan, tambang, dan hasil laut, sangat memengaruhi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan suatu negara, terutama dalam hal penyediaan bahan baku produksi. Sementara itu, keahlian dan kewirausahaan dibutuhkan untuk mengolah bahan mentah dari alam, menjadi sesuatu yang memiliki nilai lebih tinggi (disebut juga sebagai proses produksi).

Sayangnya hingga saat ini, pemanfaatan sumber daya alam Indonesia masih terus terpaku pada penjualan bahan mentah. Kegiatan ekspor bahan-bahan baku industri logam dasar, hasil hutan, hingga laut masih begitu besar. Ekspor bahan mentah seperti karet, Crude Palm Oil (CPO) ataupun minyak. Padahal Indonesia mempunyai potensi untuk menjadikan bahan-bahan mentah tersebut menjadi bahan setengah jadi atau bahan jadi. Hal tersebut terjadi karena terbuai dengan harga yang cukup tinggi namun itu tak sekedar jebakan.

Di sisi lain, adapun barang-barang setengah jadi atau setengah pakai yang sering kali diimpor kemungkinan besar bahan bakunya didapat dari negeri ini. Sehingga setelah sampai di dalam negeri, harganya begitu mahal ditambah harga jual pasaran sudah akan terkena penambahan biaya bea masuk. Hal tersebut justru merugikan rakyat Indonesia.

Tentunya untuk memperkuat ekonomi nasional, penjualan komoditas mentah saat ini harus segera dihentikan. Di sini peran pemerintah dalam membuat kebijakan yang sedikit demi sedikit harus mengurangi ketergantungan kita terhadap ekspor bahan mentah dengan menggeser ke arah pengembangan sektor unggulan seperti pertanian, kehutanan, perikanan dengan bentuk barang setengah jadi atau siap pakai.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor Indonesia pada Januari-Oktober 2014 senilai US$ 148,06 miliar. Angka ini turun 1,06% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Data BPS menyebutkan, ekspor non migas Indonesia didominasi oleh 2 kelompok barang yaitu bahan bakar mineral (terutama batu bara) serta lemak dan minyak hewan/nabati (terutama CPO).

Pada Januari-Oktober 2014, ekspor bahan bakar mineral mencapai US$ 17,71 miliar. Angka ini adalah 14,49% dari total ekspor non migas. Sedangkan pada periode yang sama, ekspor lemak dan minyak hewan/nabati tercatat US$ 17,6 miliar. Ini adalah 14,41% dari total ekspor non migas.

Data terbaru yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari-Maret 2017 naik 19,93 persen dibanding periode yang sama tahun 2016, demikian juga ekspor hasil pertanian naik 22,84 persen dan ekspor hasil tambang dan lainnya naik 32,26 persen.

Untuk itu penurunan ketergantungan menjual bahan mentah harus terus dipertahankan bahkan ditingkatkan. Paling penting yang terakhir tadi yaitu menumbuhkan industri pengolahan artinya bahan bahan mentah yang ada di Indonesia harusnya bisa diarahkan untuk masuk ke industri pengolahan.

Tentunya untuk menuju ke arah ini, pemerintah harus lebih serius dalam upaya meningkatkan pula kualitas sumber daya manusia, yaitu dengan membenahi pelayanan pendidikan dan persepsi masyarakat untuk tidak tergantung hanya menjadi pekerja di industri-industri milik asing, juga lebih meningkatkan peran dalam pembinaan dan bantuan modal kewirausahaan. Sehingga kelak muncul pengusaha-pengusaha lokal yang menciptakan berbagai usaha pengolahan.

(Tim Redaksi)

Leave a Reply

%d bloggers like this: