Thursday, February 22Kita mulai dari sini...

Segitiga Proxy War: Feminisme, LGBT, HAM Nyeleneh!

Penulis: Santi Oktavia (Aktivis Anti LGBT)

 

Bisa jadi memang  sejak dulu orang-orang berprilaku seks menyimpang  sudah ada di Indonesia. Homoseks , lesbian dan biseksual utamanya, mungkin fenomena transgender masih relatif baru.

Namun adanya para pesakitan ini sejak dulu bukan berarti harus ada sikap penerimaan bahwa mereka tidak menyimpang dan tidak merugikan masyarakat. Padahal sudah jelas-jelas bahwa bibit HIV desemai oleh para homoseks. (coba tanya saja para dokter yang masih waras mengenai kasus HIV dan penyakit kelamin lainnya). Yang kemudian menjadi menyebar lewat perilaku-perliaku seks menyimpang serta media penularan lainnya.

Sebab di zaman ini rasanya orang-orang LGBT semakin tidak malu. Dengan mempertontonkan orientasi menyimpang mereka di depan publik. Bahkan berusaha memperluas cakupan agenda mereka untuk kemudian berujung pada pelegalan keabsahan di mata hukum. Seperti Belanda dan Amerika.

 

Proxy War LGBT

Kurang lebih empat tahun terakhir saya amati, dan sebagai pengalaman pribadi bahwa kampanye soal penerimaan LGBT ini biasa diangkat oleh orang-orang yang mengatasnamakan HAM. Atau lebih spesifik juga ditunggangi oleh para sebagian aktifis feminisme versi barat. Saya garis bawahi sebagian. Sebab beberapa orang teman saya walaupun bejalar feminisme tidak selalu pro LGBT. Namun ajaran-ajarng feminisme secara umum punya kecenderungan dijadikan landasan teoritis pembenaran perilaku menyimpang LGBT.

Saya berani bertaruh, kunjungi saja para aktivis feminis, lalu minta pendapat mereka soal LGBT. Cari perbandingan mayoritas jawabannya pro atau kontra.

Namun yang jelas memang ada akademisi dan aktivis lainnya mulai masuk di kampus-kampus untuk merusak pikiran generasi sekarang dengan dalih membela keadilan.

Padahal kalau mau dilihat, sebagian besar NGO (LSM Asing) bergerak dibidang HAM atau feminisme ala barat ini juga dibiayai oleh pihak asing. Terutama negara-negara dengan ideologi Liberal.

Saya tidak bisa memastikan berapa kucuran dari negara-negara luar atas kepentingan ini.Tetapi namanya manusia dan tepat disaat kesulitan ekonomi melanda, NGO ini menjadi ladang yang subur untuk mengais uang. Minimal untuk makan. Ditariklah orang-orang yang punya kecenderungan pikiran atas obesi kebebasan, dan HAM versi nyeleneh.

Padahal jika pun kita bicara soal HAM di Indonesia, tidaklah bisa keluar dari koridor nilai-nilai Pancasila. Sebutkan saja satu agama di Indonesia yang tidak menyebutkan bahwa homoseksual dan kawannya itu bukanlah perilaku yang melanggar norma-norma asusila dan keadaban?

Sehingga LGBT via sebagian para aktivis pendukungnya tadi, yang biasa sembunyi dalam teori-teori feminisme dan liberal nyeleneh, hampir dapat dipastikan membawa program perusakan mental masyarakat Indonesia dengan dalih Hak Asasi Manusia.

Para aktivis ini bisa agen sadar atau agen tidak sadar. Ada juga yang memang sadar bahwa mereka agen asing.

Saya hanya berharap pemerintah segera harus evaluasi kebijakan soal beredarnya paham-paham seperti ini di kampus-kampus. Karena cenderung lebih banyak merusak dibandingkan memperbaiki kualitas adab anak-anak bangsa.

Dan saya tantang para aktivis pro LGBT ini tes nyali untuk menerima donor darah dari orang-orang LGBT ini. Lalu cek secara berkala minimal 6 bulan setelah mendapat donor. Kalau ga berani gausah sok-sok-an teriak bela hak asasi manusia. hehe

 

Baca juga: 

Guru Besar UGM: UUD  Hasil Amandemen Inkonsisten Inkoheren

Leave a Reply

%d bloggers like this: