Saturday, November 18Kita mulai dari sini...

Petani Kembali Dikhianati, Lawan Penguasa Lalai!

Detik demi detik berlalu, berubah jam demi jam, berubah hari demi hari, bulan demi bulan, hingga tahun demi tahun. Pertanyaannya adalah bagaimana nasib petani Indonesia di 2017? Untuk menjawabnya, kita harus melihat kembali nasib petani di sepanjang tahun 2016. Dengan melihat nasib petani di sepanjang tahun 2016, kita akan bisa melihat bagaimana nasib petani di 2017.

Bulan Obtober 2016, di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan menjadi bulan-bulanan sekelompok orang saat korban berusaha menghalangi pengolahan lahan tebu oleh pihak Perseroan terbatas Perkebunan Nusantara (PTPN) XIV. Bulan November 2016, beberapa petani di Majalengka, Jawa Barat, ditangkap dan mengalami kekerasan aparat keamanan. Penyebabnya, para petani itu ingin mempertahankan tanahnya yang akan digusur proyek pembangunan bandara internasional Jawa Barat. Dan masih banyak sekali kasus-kasus penindasan petani yang berjung pada kriminalisasi pada petani.

Desember 2016 adalah bulan yang mungkin tidak dapat dilupakan oleh petani Kendeng di Jawa Tengah. Di pengujung tahun 2016, tenda perjuangan petani Kendeng yang didirikan di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah dirubuhkan oleh petugas Satpol PP Kota Semarang.
Terhangat saat ini, yang seharusnya mengusik nurani kita untuk peka terhadap kelalaian penguasa, petani dari kendeng Kendeng melakukan aksi menyemen kaki mereka di halaman Monas, Gambir, Jakarta Pusat. Salah seorang petani, Darto, berharap pemerintah menghentikan pembangunan pabrik semen di wilayah mereka. Perjuangan untuk menuntut Gubernur Jawa Tengah segera mematuhi putusan Mahkamah Agung (MA) Nomor 99 PK/TUN/2016 yang mengharuskan gubernur mencabut izin lingkungan PT Semen Indonesia.

Mengapa petani Kendeng begitu bersikeras menolak pembangunan pabrik semen di kawasannya? alasannya sederhana. Mereka adalah para petani. Tanah dan air adalah sumber-sumber kehidupan bagi petani Kendeng.

Pembangunan pabrik semen akan mengancam sumber air di pegunungan karst yang ada di pegunungan Kendeng. Dan itu artinya bencana bagi kehidupan mereka sebagai petani

“Pak Jokowi orang Islam, kalau kiai tahu kalau gunungnya habis bisa merusak keseimbangan alam. Pegunungan Kendeng adalah pegunungan purba yang menghidupi masyarakat dari zaman Majapahit sampai sekarang,” ujar Darto, salah satu petani yang ikut dalam aksi.

Melihat kejadian yang bertubi-tubi merugikkan nasib para petani kita, membuktikan bahwa para penguasa tidak taat terhadap hukum, apalagi menjalankan amanat rakyat dalam UUD 1945 Asli. Pemahaman penguasa akan pembangunan begitu sempit. Kemajuan selalu diukur dari seberapa mampu pemerintahan yang berkuasa membangun pabrik-pabrik, membangun gedung-gedung pencakar langit, seberapa jauh mengikuti teknologi yang tak jarang malah merusak kepribadian alam dan kepribadian manusia. Padahal pembangunan yang sesungguhnya ada pada harmonisasi pembangnan hubungan manusia dengan Tuhannya, manusia dengan alamnya, dan manusia dengan manusia lainnya.

Gubernur Jawa Tengah yang telah merilis izin lingkungan baru tentang kegiatan penambangan bahan baku semen dan pembangunan serta pengoperasian pabrik semen semakin membuktikan bahwa negara hukum telah berubah menjadi negara korporat yang haus kekuasaan dan penindasan. Petani sebagai garda terdepan dari kedaulatan pangan kembali dikhianati. Tidak ada daya dan upaya lain selain LAWAN!

#KendengLestari

(Kencana Bramustika)

Leave a Reply

%d bloggers like this: