Monday, November 20Kita mulai dari sini...

Petani dipukuli, inikah cita-cita UUD 2002?

2008134snapshot-6780x390Sungguh ironi, seperti apa yang dilansir dari Kompas.com (27 Oktober 2016), Daeng Sarro (70), seorang petani  di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan menjadi bulan-bulanan sekelompok orang saat korban berusaha menghalangi pengolahan lahan tebu oleh pihak Perseroan terbatas Perkebunan Nusantara (PTPN) XIV.

Sekitar pukul 11.00 WITA, Daeng Sarro bersama ratusan petani lainnya mengalami bentrokan. Mereka berusaha menuntut agar tanah mereka dikembalikan karena telah melewati batas kontrak 25 tahun yang disepakati secara lisan oleh kedua belah pihak. Diduga sekelompok orang yang diperintahkan untuk membubarkan aksi petani itu adalah para preman bayaran.

Sekali lagi sunggh ironi. Apakah begitu cara Badan Usaha Milik Negara yang notabene berarti milik pemerintahan bangsa Indonesia memperlakukan rakyatnya? Sampai-sampai harus menggunakan preman dan melakukan aksi-aksi kekerasan untuk berbenturan dengan warganya sendiri. Lalu di mana amanat Pancasila dan UUD45 yang harus melindungi kesejahteraan, keselamatan rakyat di republik ini? Jelas dalam kasus ini amanat itu tidaklah dijalankan. Ataukah cara-cara perlakuan seperti ini justru dibenarkan secara tata aturan negara? Artinya pemerintah hari-hari ini tidak menggunakan lagi Pancasila dan UUD45 sebagai landasan berbangsa dan bernegara. Lalu apakah UUD yang lain itu? Apakah ini sebuah cita-cita ‘efisiensi berkeadilan’ seperti apa yang ada dalam UUD 2002 (UUD45 yang diamandemen 4x).

 

Sumber foto: Kompas.com

One Comment

  • Anonymous

    menangislah para pejuang kita dialam sana, menyaksikan anak bangsa, lebih jelejelek dri binatang, UUD 45 Tidak uasah dibahas rasa kemanusiaan sdh hilang disemua kompenen ndak swasta ndak penguasa sedihhhhhh

Leave a Reply

%d bloggers like this: