Wednesday, December 13Kita mulai dari sini...

Pengembangan Teknologi Seharusnya Jadi Aset Kesejahteraan

Tidak dapat dipungkiri perkembangan teknologi menjadi salah satu indikator berkembangnya negara di berbagai belahan dunia. Negara-negara yang menghasilkan penemuan teknologi terkini dapat menaikan nilai jualnya sebagai citra kedaulatan dan kemandirian suatu negara.

Bagaimana tidak, teknologi merupakan komoditas yang tiada henti berkembang. Apalagi, berbagai kebutuhan manusia seperti halnya eksplorasi sumber daya alam yang mau tidak mau mensyaratkan suatu teknologi termutahirkan. Pun juga manusia menjadikan teknologi sebagai gaya hidup seperti halnya gadget dan teknologi lainnya. Ditambah di era ini kebutuhan akan informasi yang mana penunjangnya adalah teknologi. Hingga jenis teknologi lainnya dari alat-alat rumah tangga sampai transportasi. Pada intinya tidak mungkin masyarakat tanpa teknologi, sesederhana apapun bentuk teknologinya.

Di tengah berlomba-lombanya pengembangan teknologi, lagi-lagi Indonesia hanya menjadi penonton setia. Terlebih hanya jadi sasaran empuk arena bertarungnya produk-produk teknologi luar. Ditengah gempuran ini tak jarang menimbulkan suatu kesenjangan teknologi, karena akses terhadapnya belum mampu merata dan hanya berpusat pada kelas ekonomi menengah ke atas. Sehingga masyarakat ekonomi lemah selalu tertinggal dalam akses pemanfaatan sebuah teknologi.

Bagaimana mungkin negara sebesar dan sekaya ini terus menggantungkan teknologinya pada bangsa lain? Bukankah banyak ilmuan di negeri ini yang pintar? Namun mengapa tidak pernah ada produk? Barangkali bukan tidak pernah, tetapi dihalangi, kemajuannya disandung birokrasi. Pengajuan riset-riset yang serius bisa jadi disundul begitu saja akibat mental ingin cari mudah.

Padahal kemajuan pengembangan teknologi mau tidak mau mensyaratkan peran besar pemerintah untuk lebih serius dalam mengalokasikan dana riset terpadu. Tetapi hingga saat ini, tampaknya belum ada satu rezim pun yang melangkah lebih jauh dalam mengelola pengembangan kemandirian IPTEK.

Hal tersebut mengakibatkan orang-orang pintar lebih rela pergi ke luar negeri untuk mencurahkan gairah riset mereka, karena bangsa lain sangat serius mengelola suatu riset. Juga bukti bahwa bangsa lain lebih peka menilai sebuah riset adalah aset.

Contoh nyata seperti yang sudah pernah terjadi, bangsa kita jelas sudah mampu membuat pesawat, tetapi hingga saat ini industri pesawat masih berkutat berjalan di tempat. Bukan karena tidak mampu, tetapi ‘urusan’ lain. Padahal bisa saja Indonesia menjadi bandarnya penghasil pesawat terbang bukan? Dan pasti masih banyak penemuan anak bangsa lainnya yang dapat dikembangkan namun minim dukungan.

Kegemaran pemerintah dalam import teknologi perlahan namun pasti membuat negara ini justru semakin tertinggal dan ketergantungan. Jika produk-produk teknologi lokal tidak pernah dikembangkan, kepercayaan masyarakat terhadapnya pun tentu akan rendah, karena tidak pernah ada uji mutu secara serius dan berkelanjutan.

Padahal, jika pemerintah dan pihak swasta punya suatu visi yang bukan hanya dimulut dalam memajukan dan mensejahterakan rakyat, tentu program riset harus terus didukung hingga menghasilkan suatu produk. Pun jika lagi-lagi ‘belum’ mampu, maka aturan nasionalisasi aset asing yang bercokol di dalam negeri harus diperjelas dan dipertegas.

(Tim Redaksi)

Leave a Reply

%d bloggers like this: