Wednesday, October 18Kita mulai dari sini...

Pendidikan Harus Membawa Kedamaian Lahir Batin

Ki Hajar Dewantara melihat pendidikan mampu mengubah watak dan sikap bangsa untuk menjadi bangsa yang mempunyai derajat yang tinggi dan mampu bersaing dengan bangsa lain. Namun untuk mewujudkan hal tersebut,  pendidikan yang harus dijalankan haruslah pendidikan yang berorientasi pada kepentingan bangsa dan berjiwa ketimuran. Beliau menolak pendidikan yang hanya mengajarkan masyarakat hanya menjadi masyarakat pekerja yang lupa akan tujuan hidup.

Sayangnya pendidikan kita sekarang ini sangat jauh dari hal tersebut. Berkaca dari sistem pendidikan dasar hingga menguat pada perguruan tinggi, siswa hingga mahasiswa semakin diarahkan hanya untuk mampu bertahan hidup demi kepentingan dirinya sendiri. Pendidikan yang telah terselenggara tidak jauh mengajarkan manusia seperti halnya hewan, siapa kuat dia menang.

Pada jenjang perguruan tinggi sosok-sosok mahasiswa kritis lahir, menentang pendidikan mahal yang katanya efek kapitalisme liberal, namun pada praktiknya dipraktikannya pula cara hidup individualistis dan dibuangnya jauh-jauh nilai keagamaan atas dasar sainstisme. Hal ini patut kita renungkan dan koreksi bersama.

Lalu apa yang salah sebenarnya? Pertanyaan ini sebenarnya bagai lingkaran setan yang tidak ada habisnya. Apakah sistem yang diberikan pemerintah? Ataukah kebiasaan di masyarakat kita? Keduanya sebetulnya bukan tawaran untuk dibenahi hanya dari satu sisi, melainkan ada hubungan yang saling mempengaruhi antara keduanya.

Di satu sisi pemerintah harus secara optimal memberikan akses dan sistem yang semaksimal mungkin membuat pendidikan di negeri ini bukan hanya menjadikan manusianya pintar dalam bidang-bidang keilmuan, namun harus mampu mencetak pendidik dan peserta didik yang di dalam jiwanya terpatri nilai-nilai religiusitas, kemanusiaan, keselarasan, kekeluargaan, persatuan, dan rasa peduli sosial yang tinggi.

Di sisi lain, masyarakat harus ikut andil dalam mensukseskannya. Masyarakat harus tetap kritis, serta mau berbesar hati memberikan perhatian bukan hanya untuk berlanjutnya kehidupan diri sendiri, namun memupuk rasa kepedulian sosial sejak dini. Dengan demikian bukan hanya peran pendidikan formal, melainkan ada peran pendidikan non formal seperti pendidikan di rumah oleh orang tua. Sehingga orang tua bukan hanya menitipkan anaknya untuk belajar di sekolah tetapi turut mengembangkan dirinya dalam menjalankan fungsi kontrol terhadap internalisasi yang telah didapatkan oleh peserta didik di sekolah.

Seperti hal yang sudah umum kita dengar dari Sang Bapak Pendidikan Nasional, “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Di Depan, Seorang Pendidik harus memberi Teladan atau Contoh Tindakan Yang Baik, Di tengah atau di antara Murid, Guru harus menciptakan prakarsa dan ide, Dari belakang Seorang Guru harus Memberikan dorongan dan Arahan.”

Orientasi Pendidikan Yang Membawa Kedamaian Lahir Batin

Pendidikan dan pengajaran di dalam Republik Indonesia harus berdasarkan kebudayaan dan kemasyarakatan bangsa Indonesia, menuju ke arah kebahagiaan batin serta keselamatan hidup lahir, itulah pesan Ki Hajar Dewantara.

Yang mana hal itulah sebenarnya yang menjadi fokus penting dari cita-cita ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’ dalam pembukaan UUD 1945. Pendidikan menjadikan manusia Indonesia yang cerdas dalam praktik keilmuan dan cerdas dalam aspek nilai-nilai spiritualitas serta religiusitas. Kita tak usah tergesa-gesa dan larut dalam trend ‘maju’ ala negara-negara Barat.

Dengan demikian sudah semestinya pendidikan kita bukanlah berorientasi menciptakan buruh-buruh saja seperti saat ini. Tetapi pemerintah dan masyarakat harus terus bergotong-royong dalam menciptakan suatu formulasi demi terciptanya manusia-manusia yang memiliki kebahagiaan batiniah itu.

Sehingga kelak ketika aset-aset bangsa ini pada waktunya menempati fungsi-fungsi sosialnya, tidak hanya akal melulu yang dipergunakan dalam mengambil keputusan dan melakukan tindakan, tetapi dengan kematangan spiritual yang mana didapat dari pemahaman keagamaan yang mendalam. Hal tersebut baru bisa berjalan ketika porsi penanaman pendidikan kebangsaan, pendidikan keilmuan , dan pendidikan keagamaan dipadankan secara seimbang.

 

(Tim Redaksi)

Leave a Reply

%d bloggers like this: