Monday, November 20Kita mulai dari sini...

PARASIT PENGHISAP DARAH RAKYAT

Saya dan kalian mungkin memiliki pertanyaan yang sama: “Negara kemana?”, “Hukum berpihak kepada siapa?” Karena pada kenyataannya, para pengurus Negara mengangkangi keputusan hukum dan mengabaikan hak-hak hidup rakyat.

Negara ada. Dan saat ini sedang mabuk pembangunan, keblinger semen, menjual sumber daya alam dan tenaga kerja kepada pemodal asing. Hukum juga ada, dan akan berpihak pada penguasa atau pubik tergantung besaran tekanan kuasa uang atau tekanan politik publik.

Protes sabar Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK), dukungan netizen, serta aksi-aksi solidaritas dari berbagai komunitas yang meluas, belum cukup memaksa Negara dan hukum membela rakyat. Demikian pula ratusan surat, berbagai petisi, dan rangkaian aksi membela buruh migran Indonesia di luar negeri, belum berhasil membuat Negara, minimal perangkat-perangkat hukumnya, berpihak pada tuntutan rakyat. Ini bukan kejadian satu dua kali. Sudah berlangsung lama sekali dan berkali-kali.

#Save ini dan #Lawan itu adalah wujud banyaknya persoalan darurat publik yang tak bisa dipilih dan dibanding-bandingkan tingkat urgensinya satu sama lain. Semuanya merujuk ke satu hal: Negara dan sistem setengah jajahan setengah feodal yangs sedang berjalan ini sudah rusak, tubuhnya dipenuhi parasit yang hidup dari darah rakyat.

Perjuangan sedulur Kendeng adalah yang berani membuka wajah asli sistem ini, memperlihatkan parasit-parasit yang hidup di tubuhnya, memperlihatkan bobroknya sistem hukum dan birokrasi, serta pada kepentingan apa keduanya berpijak.

Kita tidak akan lupa sudah lama kecewa pada kekuasaan, sudah berkali-kali dikecewakan oleh penguasa. Sehingga negara bukannya tak ada. Ia ada dan baik-baik saja, apalagi dilindungi hukum, tentara bersenjata, dan penjara. Ia tak bisa dianggap tiada, karena setiap hari memproduksi parasit, konflik, kontradiksi.

Dan tak seharusnya kita jadikan Jokowi obat atas parasit-parasit ini, karena ia hanyalah cermin dari carut marutnya Negara boneka Imperialis bernama Indonesia.

Obat itu ada dalam perjuangan massa rakyat. Maka pertanyaan selanjutnya adalah: “Sampai dimana kita bisa menyatukan kekuatan rakyat dan bergerak bersama?”

(Sheila R. J)

Leave a Reply

%d bloggers like this: