Saturday, November 18Kita mulai dari sini...

Pangan Milik Siapa?

aksi-pemuda-peduli-pangan3Jadi, apakah yang anda maksud dengan pangan? Pangan merupakan hasil dari usaha pertanian, baik pertanian makro (meliputi peternakan dan perikanan) ataupun pertanian mikro (hanya pertanian yang membudidayakan tanaman). Perhatian kita, umat Tuhan, adalah bagaimana pangan itu dapat terus tersediakan, ya,  karena kita adalah makhluk sosial, dalam nasihat jawa, ada kiasan “Mangan gak mangan,  asal kumpul”. Pangan mampu mendekatkan jarak antar individu yang sebelumnya renggang, dengan kiasan demikian.                                                   

Peringatan Hari pangan 16 Oktober 2016 dilaksanakan di Desa Trayu, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, dilahan seluas 100 hektar, dengan pameran teknologi  dan demonstrasi usaha tani dari gabungan kelompok tani. Boyolali dipilih oleh Kementerian Pertanian RI dan FAO karena keanekaragaman pangan yang terbukti dengan diversifikasi pangan yang dikembangkan untuk menopang kedaulatan pangan.  Tema Hari Pangan Sedunia (HPS) Internasional 2016 adalah Climate is Changing, Food and Agriculture must too, dengan tema HPS Nasional adalah Membangun Kedaulatan Pangan Berkelanjutan Mengantisipasi Era Perubahan Iklim.  Melalui kegiatan peringatan HPS ini, pangan digalakkan secara “ceremonial”. Pangan yang berkedaulatan adalah milik kita, umat bangsa A, B, C, dan seterusnya. Siapkah dengan pertumbuhan populasi umat manusia yang hadir dengan kebijakan pangannya? Apakah kasus kriminalisasi pangan juga hadir sebagai tindakan bodoh pemilik kebijakan?                        .

Manusia adalah makhluk sosial yang hadir dengan akhlak rasionalitas, progresifitas alamiah dan jiwa sosialis. Manusia butuh pangan untuk berpikir, Yang Mulia! Bolehkah kami libur sejenak dari rutinitas keras hidup kami yang sudah kau atur, hai penguasa? Bolehkah hamba mendapat asupan nutrisi yang halal? Dapatkah aku untuk berada di jalur juara jika aku tak punya apa-apa, wahai kaum ningrat? Apa yang harus “eneng” lakukan jika ingin jadi pemilik lahan di masa depan? Kedaulatan pangan dapat dicapai jika sektor tanah, sosial masyarakat dengan pendapatan ekonomi, proses pembudidayaan tanaman, dengan penyuluh pertanian sebagai pelaku perlindungan tanaman , dapat bekerja sinergis, untuk mewujudkan pertanian berbasis ekologis yang berkelanjutan. Jalankan usaha pertanian dengan kebijakan yang pro kaum marhaenis. Pembangunan dinamis pasti terjadi di era modern ini, namun pembangunan berbasis  lingkungan susah digagas sekarang ini. Usaha pangan akan terus eksis dengan keterpaduan konsep antarpelaku pertanian yang juga “butuh pangan”, namun apakah pangan akan terus ada jika lahan pertanian semakin sempit, degradasi lahan terjadi dan cap petani sebagai kaum terbelakang masih ada?

Kontributor: Kumala Dewi, Mahasiswi FP UB

#pangan #kedaulatanpangan #petaniindonesia #lahansempit

Leave a Reply

%d bloggers like this: