Monday, November 20Kita mulai dari sini...

Pancasila Sebuah Sistema-Filsafat (3/3)

Belajar dari Empu Tantular, 1350

Tadi kita sudah melancong dari dunia Barat, sesudah itu kita mundur ke yang lebih dekat pada Ibnu Rsjid dan Ibnu Khaldun yang juga dari luar Indonesia. Barangkali masih ada yang usil dengan berkata bahwa semuanya itu adalah pikiran-pikiran yang bersumber pada lingkaran peradaban diluar alam Indonesia.

Baiklah, kini kalian akan saya bawa kelingkaran pikiran Indonesia sendiri. Saya langkahi saja dasar pikiran para pemikir Wali Songo yang banyak tali-temalinya dengan pikiran Ibn Rusjid yang baru saya paparkan sebelumnya, dan kita kembali ke abad XIV dalam sejarah Indonesia.

Apabila kita rajin membaca sejarah yang ada di bangsa ini, maka kagumlah pada percikan dari pemikiran Empu Tantular, seperti yang dijelaskan dalam kitab Sutasoma yang dikarangnya dalam zaman-kencana keprabuan Majapahit pada pertengahan abad XIV. Hal itu bukanlah suatu hal yang telah mati.

Bhineka Tunggal Ika. Belum habis kalimat itu mendengunglah dari Empu Sgriwa, dia berkata menyudahkannya dengan “tahtana dharmma mangrwa”. Artinya seluruh kalimat seloka dari Tantular itu: berbedalah itu, satulah mereka itu; dan di dalam peraturan Undang-Undang tidak adalah diskriminasi atau dualisme.

Kalimat falsafah itu berasal dari pada tinjauan hidup untuk memperkuat persatuan dalam negara keparabuan Majapahit dizaman emas. Aliran agama pada waktu itu memang banyak dan aliran pemikiran pun demikian. Begitupun aliran kebudayaan. Kehidupan keruhanian yang meriah itu disebabkan karena perkembangan kelahiran dan kebatinan yang bergelora. Bagaimana cara menyatukan berbagai aliran pikiran, supaya jangan timbul pepecahan?  Kalau kita menghayati seloka itu dapat melunturkan segala aliran tersebut dengan mengemukakan persamaan, maka sama hal nya seperti “het ei van Colombus”, dengan pengartian konsep metafisika bahwa diantara pelbagai pikiran, perbedaan agama dan perbedaan filosofi ada juga suatu persamaan yang menyatukan. Sehingga persamaan inilah yaing mengikat segalanya, yaitu Bhineka  Tunggal Ika “berbeda mereka, tetapi tetap mereka itu tinggal bersatu”. Dan dalam perbedaan pikiran serta pendapat adalah persamaan yang dapat mengikat dalam pokok kesatuan.

Satu agama tidaklah lebih atau kurang daripada agama yang lain. Demikian juga dengan aliran politik dan aliran kebudayaan. Itu ditegaskan oleh Empu Tantular. Janganlah segala aliran itu dinilai berbagai-bagai, dan jangan diadakan diskriminasi dan dualisme, melainkan tempatkan dalam suatu nilai yang sama harganya.

Demikianlah falsafah Bhineka Tunggal Ika di zaman kencana Indonesia pada abad ke-14, seperti dilaksanakan oleh Kepala Negara Puteri Teribuana dan oleh Prabu Hayam Wuruk pun oleh patih Mangkubumi Gajah Mada.

Akibatnya filosofi-persatuan bagi perbagai agama, aliran politik, aliran kebudayaan, sehingga Majapahit oleh rasa persatuan itu bertambah besar dan mencapai corak yang sebenar-benarnya sesuai dengan watak pribadinya. 232 tahun lamanya Majapahit dapat berdiri, dari 1293 sampai 1525. Seperti susunan pemikiran ahli pemikir Indonesia Empu Tantular di abad  XIV itu dapat memberi dasar bagi berbagai pikiran yang beraneka warna dan meghindarkan masyarakat serta negara dari perpecahan yang meruntuhkan.

Begitu pulalah Pancasila, mengandung maksud untuk memberi dasar bagi persatuan nasional yang paling utama berguna bagi perjuangan bangsa dan negara Indonesia yang dilahirkan atas perjuangan dan kemerdekaan yang berdaulat.

Dan sudah terbukti bahwa Pancasila itu yang dapat memepersatukan bangsa Indonesia sejak proklamasi hingga hari ini. Sehingga sama halnya dengan filosofi Empu Tantular, maka ajaran Pancasila ialah sebuah sistema-filosofi yang mengandung daya pengikat di dalamnya,untuk memperkuat persatuan Bangsa, yang menjadi syarat mutlak bagi kemerdekaan. Saya rasa hal yang saya paparkan ini sungguh mudah untuk difahami.

Dengan demikian lah sudah jelaslah Pancasila bukan semata-mata kumpulan dari virtue, bukan hanya sekedar ideologi, namun lima sila Pancasila merupakan satu sistema-filosofi yang yang dibangun dari dalam dan menjadi pancaran jati diri sebagai sebuah pedoman bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. Sebagai sebuah sistema filosofi berbangsa dan bernegara, tentunya dia duturunkan dalam aturan konkret yang tidak dapat dipisahkan yaitu UUD 18 Agustus 1945.

(Tim Redaksi)

Leave a Reply

%d bloggers like this: