Saturday, November 18Kita mulai dari sini...

Pancasila Sebuah Sistema-Filsafat (2/3)

Diilhami dari Ibnu Rusjid (Averroes). 1126-1198

Katakanlah mungkin Hegel letaknya begitu jauh dari Indonesia. Maka saya undanglah seorang pemikir filsafat penutup bangsa Arab. Ia bernama Ibnu Rusjid yang belajar di Cordova pada zaman yang amat gemilang, pada waktu agama Islam berkembang begitu pesat di tanah Spanyol pada abad ke-12.

Dalam bahasa latin Ibnu Rusjid dikenal dengan sebutan Avveroes. Pengikut daripada beliau adalah Ibnu Khaldun yang hidup di abad ke-14, tetapi tidak lagi di tanah Spanyol, melainkan sudah berpindah ke tanah Tunisia, walaupun masih meninjau belajar di Garada dan Sevilla.

Seorang ahli filsafat, Profesor A. Tynbee, penulis delapan jilid buku filsafat-sejarah yang terkenal “A Study of History”, sangat kagum dengan kedua ahli filsafat dari Arabiah itu dan seolah berpendapat bahwa ahli filsafat yang hidup sampai sekarang, belumlah sampai ketumit-dengkul kedua ahli filsafat yang saya sebutkan tadi.

Tinjaukan pujangga Inggris itu dapatlah kita ikutkan. Menurutnya, bahwa filsafat ialah pengetahuan. Ibn Risjid berkata, kesungguhan yang sebenarnya terdapat pada filosofi. Dan pengetahuan itu mempunyai sumber atau corak. Pertama yang yang turun dengan melalui Kitab Suci. Sedangkan ada lagi pengetahuan lainnya dengan lain corak, yaitu yang dapat dijangkau dengan hikmah kebijaksanaan manusia.

Saya sekarang bertanya: dari Sila yang lima itu adalah satu Sila, yaitu peri-Ketuhanan Yang Maha Esa, yang disalurkan oleh pengetahuan naluri kepada kita menurut tinjauan asli atau oleh karena berdasarkan Kitab Suci masing-masing agama. Sila yang empat lagi adalah pengetahuan yang ditimbulkan oleh hikmah kebijaksanaan manusia sendiri. Kalau ini dapat ditrunkan maka dengan demikian sudah jelaslah filsafat Pancasila bukanlah suatu barang yang bercerai-berai seperti pasir ditepi pantai, melainkan Pancasila benar-benar tersusun baik dalam satu perumahan filofosi yang harmonis dan sesuai dengan dengan syarat filosofi yang sesungguhnya, yaitu pertemuan cakrawala hidup berdasarkan tradisi-naluri dari Kitasb Suci, serta berdasarkan percikan hikmah kebijaksanaan manusia Indonesia. Barang siapa memahami jalan pikiran Ibnu Rusjid dan Ibnu Khaldun ini, dia pasti akan berpendapat bahwa Pancasila adalah suatu sistema filsafat.

(Tim Redaksi)

Leave a Reply

%d bloggers like this: