Saturday, November 18Kita mulai dari sini...

Pancasila Sebuah Sistema-Filsafat (1/3)

Pancasila. Suatu term yang lazim di dengar oleh seantero Bangsa Indonesia. Pancasila sebuah hasil pemikiran, perenungan, kebijaksanaan yang mampu mempersatukan Bangsa Indonesia sejak hari Proklamasi hingga saat ini. Namun kini Pancasila mati suri. Dibunuh perlahan oleh generasi yang melupakan sejarah bangsa. Generasi yang dengan gegabah mengartikan bahwa Pancasila, dari sila satu, dua , tiga , empat, dan lima ialah hanya kumpulan dari pada kumpulan virtue, tetapi tidaklah mencukupi sebagai suatu kesatuan filosofi.

Atas dasar itu dengan tegas bahwa pemikiran dangkal semacam itu akibat dari kurangnya pemahaman akan sejarah bangsa kita, serta minimnya rasa cinta terhadap hidup berbangsa dan bernegara Indonesia. Padahal, Pancasila secara jelas menunjukkan dirinya sebagai suatu sistema-filosofis yang paling mutakhir di era modern ini.

Banyak dikalangan akademisi pun praktisi pendidikan mengucapkan bahwa Pancasila itu bukanlah suatu sistema filosofis dan hanya sebagai kumpulan dari lima kebaikan yang tak berkorelasi satu sama lain. Kelima kebaikan itu bercerai-berai seperti pasir di pantai. Untuk itu saya akan menunjukan bahwa kelima sila dalam Pancasila adalah kebaikan-kebaikan yang tersusun secara harmonis dalam suatu bingkai sistema filosofis.

Berangkat dari skema Hegelian (Friedrich hegel 1770-1831)

Dengan segala kerendahan hati saya meminta para pembaca tulisan ini untuk fokus sejenak, karena saya akan membawa kalian masuk pada alam pikiran seorang filfus besar dari tanah Jerman yaitu Friedrich Hegel (1770-1831). Banyak filsuf besar lahir dari pemikiran Hegel. Seperti Karl Marx, tinjauan evolusionis Darwin, juga filsuf yang membuat gagasan tentang ilmu pengetahuan menjadi mungkin yaitu Immanel Kant.

Menurut Hegel, bahwa hakikat filosofinya ialah suatu sintesa pikiran yang lahir dari anti-tesa pikiran. Dari pertentangan ide lahirlah perpaduan ide yang dapat harmonis. Demikiannya dengan Pancasila, satu sintesa Negara yang lahir dari satu anti-tesa.

Mari kita lihat kalimat pertama dari pembukaan Republik Indonesia yang berbunyi:”…,bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu penjajahan harus dihapuskan karena bertentangan dnegan Peri-Kemanusiaan dan peri-Keadilan”. Kalimat pertama ini adalah kalimat anti-tesa. Pada ketika ant-tesa itu sudah hilang, maka lahirlah kemerdekaan. Dan kemerdekaan itu kita susun dalam ajaran filosofi Pancasila yang disebutkan dalam pembukaan UUD 1945 itu yang berbunyi:

“…Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada :

Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” –di sini Pancasila disebutkan untuk mewujudkan tujuan dan cita-cita bangsa Indonesia. Kalimat ini ialah kalimat sistesis.

Tidakkah ini jelas dan nyata menyebutkan suatu sistesa pikiran atas anti-tesa pendapat?

Jadi, sebangun dengan pemikiran Hegel, beralasanlah pendapat, bahwa ajaran Pancasila itu adalah sistema filosofis, sesuai dengan dialektika Neo-Hegelian.

Sehingga tidak benarlah anggapan bahwa ajaran lima sila itu hanya suatu kumpulan dari hal-hal baik belaka, dan bercerai-berai seperti pasir di tepi pantai. Jelas tidak begitu ketika kita sudah melihat dari pemikiran Hegel.

Semuanya, kelima sila itu tersusun dalam suatu perumahan pikiran filosofi yang harmonis yang sesuai pula dengan tinjauan Neo-Hegelian.

(Tim Redaksi)

 

Leave a Reply

%d bloggers like this: