Saturday, November 18Kita mulai dari sini...

Nusantao, Nenek Moyang Bangsa Indonesia?

Siapakah Bangsa Indonesia? Dari manakah asalnya? Pertanyaan ini pasti mengganggu benak siapapun yang mendamba akan keaslian. Nyatanya, buku-buku sejarah mengajarkan bahwa sejarah Indonesia baru dimulai pada sekitar abad ke-5 M ketika ditemukannya bukti-bukti tertulis berupa prasasti-prasasti dalam bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa, yang berasal dari India. Jika ditarik lebih jauh lagi, maka ditemukanlah kisah tentang migrasi dari pusat-pusat peradaban kuno di Cina Selatan ke Asia Tenggara, sampai ke kepulauan Nusantara. Lebih jauh lagi, maka didapati kisah tentang temuan fosil manusia purba setengah kera di lembah Bengawan Solo. Lantas siapa sebenarnya Bangsa Indonesia, jika demikian? Adakah keaslian dalam sejarah Bangsa Indonesia?

Semua kenyataan ini tentu mengecewakan bagi mereka yang menyadari betapa bangsa-bangsa lain di dunia ini punya sejarah yang merentang jauh sampai ke ribuan tahun yang lalu. Akan tetapi, Iskak Sang Penggubah Lagu tidak salah ketika ia bersyair mengenai Nusantara yang sudah terkenal makmurnya sejak jaman purba, begitu juga dengan penduduknya. Entah dari mana ilhamnya, namun ternyata memang benar, sejarah bangsa ini telah dimulai jauh dari ribuan tahun yang lalu. Petunjuknya ada pada bentang alam Nusantara dan bahasa nasional kita sendiri.

Asal dari Cina Selatan?

Tersebutlah seorang arkeolog, Wilhelm Solheim namanya, pada 1964 menantang hipotesis “asal dari Taiwan” atau Cina Selatan yang terlanjur berurat akar dalam pelajaran sejarah anak-anak Indonesia, mengenai asal-muasal penghuni rangkaian kepulauan di Asia Tenggara. Selama berpuluh tahun sejak awal abad ke-20, anak-anak Indonesia dibuat percaya bahwa nenek-moyang mereka berasal dari Cina Selatan. Hipotesis terdahulu membayangkan nenek-moyang orang-orang Asia Tenggara yang melulu hidup dari bercocok-tanam terpaksa meninggalkan kampung halamannya di Cina Selatan sekitar 6000 tahun yang lalu karena tekanan ledakan penduduk.

Dengan memanfaatkan sedikit pengetahuan bahari yang ada pada mereka, petani-petani purba ini menyeberangi laut-laut sempit menuju ke arah selatan, pertama ke Taiwan, kemudian ke kepulauan Filipina, dan akhirnya memasuki kepulauan Nusantara selebihnya. Migrasi ini terjadi secara berangsur-angsur sampai sekitar 500 SM, terbukti dengan tersebarnya artifak berupa kerajinan gerabah dan perunggu di berbagai tempat di Nusantara, yang menunjukkan corak dan ragam yang sama dengan yang ditemukan di Cina Selatan dan Taiwan.

Solheim, dengan menggunakan data linguistik dan arkeologis yang sama, menawarkan tafsir yang bertolak-belakang dengan itu. Perhatiannya terutama dipusatkan pada fakta bahwa bahasa yang digunakan oleh nenek-moyang orang-orang Asia Tenggara ini, dalam rentang masa yang sangat pendek, tersebar merata di tempat-tempat yang jauh, sampai Madagaskar di barat, Pulau Paskah di timur dan Taiwan di utara; dan tampaknya, bahasa ini, alih-alih dari utara, justru berasal dari selatan. Situasi seperti ini hanya mungkin jika para penutur bahasa ini, yang lalu dinamai bahasa Austronesia Kuno, adalah orang-orang yang secara aktif dan rutin bepergian ulang-alik ke tempat-tempat jauh itu.

Pedagang dan Pelaut Ulung

Artinya, alih-alih petani, kemungkinan besar mereka ini justru pedagang dan pelaut ulung! Solheim menamai hipotesisnya “Jaringan Komunikasi dan Perdagangan Bahari Nusantao,” di mana “Nusantao” adalah kata bentukan dalam bahasa Austronesia Kuno yang berarti Orang-orang Selatan. (nusa = selatan, tao = orang/bangsa) Lagipula, fakta menunjukkan bahwa artifak-artifak kerajinan gerabah dan perunggu pun tersebar merata dalam waktu yang singkat pula. Mustahil hal ini disebabkan oleh migrasi petani yang cenderung hidup menetap.

Hipotesis Nusantao ini kemudian ternyata diperkuat oleh temuan termutakhir dalam bidang ilmu biologi molekuler dan evolusi pada 2008, bahwa kepulauan—yang pada saat itu masih daratan—Asia Tenggara telah dihuni manusia jauh lebih lama daripada yang selama ini diperkirakan. Sebaliknya, temuan ini justru menunjukkan bahwa serangkaian migrasi manusia besar-besaran dari selatan ke segala penjuru telah mulai terjadi sekitar 10 ribu tahun yang lalu. Kejadian ini ternyata dipicu oleh naiknya permukaan laut secara berangsung-angsur akibat perubahan iklim yang mengakhiri jaman es terakhir, yang menenggelamkan Paparan Sunda (Sundaland) sejak 15 ribu sampai 7000 tahun yang lalu.

Penelitian lebih jauh di bidang genome manusia bahkan menunjukkan bahwa benua Asia mulai dihuni oleh manusia sejak adanya kejadian migrasi tunggal dari selatan ke utara. Hal ini dibuktikan dengan lebih banyaknya variasi genetik di selatan, sedangkan semakin ke utara semakin sedikit variasi genetik itu. Jadi, meski penduduk Cina dewasa ini sangat banyak, variasi genetiknya jauh lebih rendah dibandingkan dengan sedikit penduduk yang berdiam di Asia Tenggara. Itu artinya orang Cinalah yang justru merupakan keturunan Orang-orang Selatan!

Budaya Bahari dan Bahasa Persatuan

Ada dua simpulan yang dapat ditarik dari Orang-orang Selatan nenek-moyang kita ini. Pertama, mereka sangat insyaf dengan kondisi bentang alam tempat hidup mereka yang didominasi lautan seraya menyesuaikan budaya dan peradabannya dengan kondisi itu. Kedua, tulang pungung peradaban mereka bukanlah kekuatan militer yang dominan atau sekadar hasil bumi dan kerajinan yang melimpah, melainkan suatu jaringan perdagangan internasional yang dikelola melalui suatu bahasa (lingua frança) yang mempersatukan pusat-pusat perdagangan yang jauh-jauh letaknya.

Jika budayanya tidak bercorak bahari, tidak mungkin Orang-orang Selatan mampu menyelamatkan diri ketika permukaan laut naik sampai 150 m dari sebelumnya, menenggelamkan peradaban mereka, ketika jaman es berakhir. Jika semata mengandalkan jalan kekerasan, tidak mungkin suatu jaringan perdagangan internasional dapat bertahan sampai ribuan tahun lamanya. Wilayah daratannya yang jelas kaya karena letak yang strategis di sekitar khatulistiwa, belum lagi tanahnya yang sangat subur penuh luruhan materi vulkanis, tidak membuat Orang-orang Selatan lalai akan sejatinya kampung halaman mereka yang dikelilingi lautan luas. Lautan bagi mereka bagaikan halaman depan, tempat mereka melangkah jika hendak bepergian ke mana-mana, tempat mereka menuju ketika hendak pulang.

Sumber Gambar: Oppenheimer, S. Richards, M. 2001. “Fast trains, slow boats, and the ancestry of the Polynesian islanders.” Science Progress 84 (3). 157-181.

Leave a Reply

%d bloggers like this: