Saturday, November 18Kita mulai dari sini...

Nelayan Soko Guru Revolusi, Riwayatmu Kini

Oleh: Sheila R.J.

Dalam rangka hari Nelayan Nasional, yang jatuh pada 6 April, merupakan sebuah momentum yang harus mendapat perhatian dari berbagai pihak.

Bung Karno pernah bilang bahwa buruh tani dan nelayan adalah soko guru bangsa, soko guru revolusi. Namun elemen Vox Populi ini kini menjadi kaum tertindas.

Hampir sebagian dari nelayan hidup dalam garis kemiskinan. Persoalan kemiskinan mereka tak ubahnya bagai bertamu di rumah sendiri. Karena jika kita lihat, upaya pemerintah untuk membangun sektor kemaritiman kerap membelakangi urusan nelayan dalam mencari nafkah memenuhi kebutuhan hidup paling mendasar.

Sebagaimana tertuang dalam NAWA CITA yang digagas Presiden, yang kemudian dirinci melalui menteri kelautan dan perikanan yaitu: Peraturan Pemerintah KP 56/2014 tentang moratorium kapal eks asing. Lalu Peraturan Pemerintah KP 57/2014 tentang pelarangan alih muatan tengah laut, KP 1/2015 tentang penangkapan lobster dan kepiting. Berbagai kebijakan tersebut dinilai merugikan nelayan.

Tak banyak yang membahas nelayan dan segala persoalannya, dan tidak ada yang sadar serta peduli dengan nasib nelayan di tanah air republik Indonesa. Kendati menancapkan diri sebagai negara poros maritim dunia, Indonesia tak sepenuh hati mengangkat nasib para nelayan di berbagai pelosok negeri dari garis kemiskinan. Nyatanya persoalan tersebut masih banyak menuai kontraversi bagi kalangan elit atas keadaan yang membawa nelayan ke dalam jurang kemiskinan.

Tingkat kesejahteraan nelayan yang tak kunjung membaik. Dari 31,02 juta jiwa penduduk miskin nasional, yaitu 7,87 juta jiwa adalah nelayan miskin. Nelayan merupakan sebuah profesi yang jauh dari kata mentereng. Dengan kulit hitam terbakar matahari, bau amis lantaran bergumul dengan hasil ikan tangkapan, pergi melaut hingga berhari-hari dengan membawa harapan mendapat hasil yang lebih dari hari sebelumnya.

Nelayan, bisa dikatakan sesuatu yang kumuh dan harus berani mengambil resiko besar di tengah lautan. Profesi nelayan memang tak mentereng karena itu tak banyak diminati oleh anak muda zaman sekarang. Nelayan yang kerap disebut hanya sebagai salah satu pelarian karena tidak diterimanya di profesi lain. Konon, nenek moyang bangsa kita adalah seorang pelaut.

Namun jika kita lihat berbagai persoalan yang kompleks di tanah air tercinta, untuk sekedar bertahan hidup saja tak mudah bagi seorang nelayan. Dia harus rela meninggalkan istri dan anak di malam hari, berjemur ditengah laut terbakar sinar matahari, dan menyelam meninggalkan nafas membawa tubuh ke dalam laut yang arusnya kencang. Hidup terjepit ekonomi, anak menjerit kelaparan, rumah tak layak serta hidup yang jauh dari sehat menjadikan nelayan tetap optimis penuh semangat mengarungi lautan menangkap ikan.

Lantas, bagaimana dengan negeri Indonesia? Bangsa yang katanya besar, kaya, subur dan melimpah. Adakah bangsa yang dicintai ini mencintai para nelayan?

 

 

Leave a Reply

%d bloggers like this: