Monday, November 20Kita mulai dari sini...

Membangun Jalan Tol Komoditas

Melihat kecepatan perkembangan pembangunan jalan perbatasan Indonesia-Malaysia, membangun jalan tol komoditas bukanlah sesuatu yang mustahil dikerjakan di Kalimantan atau Sumatera saat ini. Tol komoditas diperuntukkan bagi sarana angkut produk pertambangan dan perkebunan. Selama ini perusahaan mesti membangun akses jalan sendiri menuju pelabuhan terdekat. Ditengah situasi harga komoditas yang rendah, membangun akses jalan sendiri tidak lagi visible.

Wacana untuk membangun jalan tol komoditas secara langsung akan memberi efek “nendang” bagi para pebisnis komoditas. Akses jalan merupakan kendala utama yang dihadapi dan menjadi pertimbangan utama dalam investasi. Truk yang mengangkut komoditas tidak bisa melalui jalan raya yang sudah ada, sedangkan membangun sendiri akses jalan membutuhkan perjuangan yang sangat berat. Perijinan atas jalan, pembebasan lahan, konstruksi badan jalan dan isu sosial menjadi problem langsung. Keterlibatan pemerintah sudah bisa memotong tahap perijnan, isu sosial dan pembebasan lahan yang merupakan momok terbesar. Melibatkan TNI dalam proses ini seperti konstruksi jalan perbatasan adalah langkah yang taktis dan cerdas mengingat isu sosial yang selalu panas di daerah yang kaya sumber daya alam.

Selama ini pebisnis komoditas mesti membangun sendiri akses menuju pelabuhan terdekat, yang mana ini memerlukan modal investasi yang besar. Biaya membangun jalan tambang berkisar 10 sampai dengan 15 Miliar per kilometer. Cara kedua adalah menggunakan jalan eksisting milik swasta dalam skema kerjasama bisnis. Dari sisi lingkungan, membangun akses jalan mandiri akan menyebabkan makin banyaknya hutan yang beralih peruntukan.

Keterlibatan pemerintah dalam membangun tol komoditas akan memberi keuntungan secara langsung sebagai berikut:

  1. Sumber penerimaan negara.
    Dalam skema bisnis antar swasta, biaya melintas yang dikenakan bervariasi dalam kisaran $0,1 sampai dengan $0,13/ton/kilometer. Harga tersebut tidak pasti, tergantung kesepakatan. Sering sekali karena menjadi akses satu satunya harga melintas menjadi abnormal. Pemerintah bisa menetapkan harga yang lebih ramah terhadap pihak swasta atas pertimbangan volume melintas yang besar karena bisa menetapkan sebagai akses tunggal untuk melintas dalam satu kawasan.
  2. Menggerakkan pusat pertumbuhan baru.
    Hadirnya tol komoditas juga mesti diikuti dengan pengaturan tata ruang. Pemerintah pusat/daerah perlu mengatur tata ruang kawasan pertambangan/perkebunan, kawasan pemukiman, kawasan industri yang berdampingan dengan kawasan pelabuhan khusus sungai dan laut. Dalam konteks kawasan yang sudah teratur, pembangunan terhadap akses pendidikan, ekonomi dan kesehatan juga lebih terencana. Diharapkan kota baru bertumbuh dengan cepat dan berkualitas.
  3. Menggairahkan bisnis komoditas yang terkunci karena akses.
    Tambang dan kebun yang berada di area tengah pulau Kalimantan dan Sumatera terkunci karena akses menuju pelabuhan terdekat yang cukup jauh. Sebagai ilustrasi jarak dari Muara Wahau di Kalimantan Timur menuju pelabuhan pantai adalah berkisar 150 Km. Jarak dari Kuala Kurun Kalimantan Tengah menuju pelabuhan sungai yang bisa dipakai setiap saat adalah sekitar 200 Km. Potensi tambang yang sangat potensial dan perkebunan akan sia sia jika tidak ada akses jalan ke pelabuhan. Otomatis negara mengalamai kerugian potensi pemasukan karena sumber daya yang tidak bisa diolah. Termasuk kerugian pertumbuhan ekonomi masyarakat didaerah tersebut. Selama ini terlalu banyak wacana tanpa realisasi akan adanya investasi transportasi masal berbasis kereta api yang akan dibangun dari tengah Kalimantan/Sumatera menuju pelabuhan. Perlu hal kongkrit yang segera bisa diwujudkan pemerintah setelah selama ini hanya janji janji investasi palsu.
  4. Menggerakkan ekonomi masyarakat
    Jalan tol komoditas juga mesti didampingi oleh jalan tol untuk akses rakyat. Jalan sekaligus dibuat dengan ruas yang lebar. Dalam satu kali pembangunan, seluruh potensi ekonomi dan mobilisasi penduduk bisa tergerakkan. Membangun jalan tol menjadi visible walaupun volume kendaraan penumpang yang melintas kecil karena adanya potensi volume melintas sektor komoditas yang tinggi.

Sempat mengalami masa jayapada tahun 2011, bisnis di sektor komoditas terus mengalami kelesuan hingga kini. Harga jual yang tindak kunjung beranjak naik terus menekan gairah usaha sektor ini. Prediksi para pakar, dalam 3 tahun kedepan harga jual masih suram. Banyak juga yang memperediksi era bisnis komoditas telah berakhir. Untuk saat ini agar bisa bertahan dalam bisnis komoditas jalan satu satunya adalah dengan strategi efesiensi. Peran pemerintah dalam membantu terwujudnya efesiensi adalah bagai oase bagi seluruh pelaku bisnis komoditas. Semoga segera bisa terwujud.

(komas) 

Leave a Reply

%d bloggers like this: