Monday, November 20Kita mulai dari sini...

MAHASISWA, BANGKIT MELAWAN ATAU DIAM DITINDAS

Oleh : Sheila R.J, Mahasiswa Kriminologi UI

Setiap revolusi atau peaksi-istana-210515-ak-7rubahan sosial  di dunia ini, hampir pasti terdapat peran, baik itu sedikit maupun banyak, mahasiswa di dalamnya, termasuk perubahan-perubahan yang terjadi di negeri Indonesia. Mahasiswa adalah ibarat sang penolong bagi mereka yang menginginkan perubahan dan sebaliknya petaka bagi mereka yang berkuasa. Sepertinya, sejarah terlanjur mempercayakan kepada pemuda mahasiswa untuk membuat perubahan.

Namun, belakangan ini gerakan mahasiswa “gaungnya” seperti tidak terdengar lagi. Mereka sibuk dengan dunia nya sendiri. Lupa akan tridharma perguruan tinggi yang menuntut agar mahasiswa mengamalkan segenap tenaga dan pikirannya demi kesejahteraan rakyat. Terlena dengan hingar bingar yang ditawarkan oleh imperialis.

Melihat kembali dalam sejarah, sesungguhnya pergerakan mahasiswa memang mendorong perubahan.

Misalnya di Amerika Latin, mahasiswa berperan dalam kehidupan bernegara. Aksi-aksi mereka diawali dari adanya Manifesto Cordoba di Argentina pada tahun 1918. Manifesto Cordoba menjadi deklarasi hak mahasiswa yang pertama di dunia, dan sejak itu mahasiswa di sana memainkan peran yang konstan dan militan dalam kehidupan politik.

Manifesto Cordoba adalah deklarasi mahasiswa yang menuntut adanya otonomi akademik universitas dan keterlibatan mahasiswa dalam mengelola administrasi universitas (cogobierno). Hal ini berangkat dari adanya administrasi lama yang tidak pernah memberikan ruang untuk pembaharuan kurikulum dan adanya ajaran yang membuat setiap orang ketakutan bila melakukan perubahan. Hal yang dinyatakan dalam manifesto tersebut salah satunya: “Kami ingin menghapus dari organisasi universitas konsep tentang otoritas yang kuno dan barbar, yang menjadikan universitas benteng pertahanan tirani yang absurd.”

Dalam jangka waktu 20 tahun, perlawanan mahasiswa dari Argentina ini menyebar ke seluruh Amerika Latin. Di Peru tahun 1919, Chili 1920, Kolumbia 1924, Paraguay 1927, Brazil dan Bolivia 1928, Meksiko 1929, Kosta Rika 1930, dan Kuba pada tahun 1933 dan 1952.

Setiap negara memiliki karakternya masing-masing, sehingga tingkat keberhasilan dan durasi pencapaiannya pun berbeda-beda. Ada yang menang dengan menggulingkan rezim otoriter, ada juga yang hanya setengah-setengah dengan mendapatkan otonomi sementara. Namun setidaknya, mahasiswa Amerika Latin mengajarkan kepada kita jika tuntutan akademis dan aktivitas politik merupakan dua hal yang saling melengkapi, bukan saling bertentangan.

Sejarah juga mencatat di Italia perlawanan mahasiswa berawal dari Turin. Mahasiswa berhasil mengontrol aktivitas fisik dan intelektual kampus mereka melalui kegiatan-kegiatannya sendiri. Selama sebulan kampus berhasil di duduki (27 November 1967-27 Desember 1967), sebelum aparat menyerbu kampus tersebut.  Sejak itu perlawanan meluas ke beberapa kota sepanjang jazirah Italia.

Alasan utama mahasiswa melakukan perlawanan adalah karena kondisi akademis yang otoriter. Tradisi pedagogi dan kurikulum menjadikan profesor-profesor di sana dapat mengajar dengan seenaknya sendiri, misalnya, para professor di sana memberi kuliah dengan diktat yang ditulisnya sendiri dan ujian hanya diambil dari diktat tersebut. Tak ada ruang diskusi yang bebas dan kesempatan belajar dari sumber lainnya.

Atau kita bisa melihat sejarah pergerakan mahasiswa di Spanyol yangl dilatarbelakangi dua hal, yaitu krisis dan perlawanan terbuka kepada rezim Franco dan kondisi internal Universitas. Secara umum, mahasiswa merupakan entitas yang kecil di Spanyol pada tahun 1965. Kondisi ini disebabkan oleh mahalnya biaya kampus dan sedikitnya subsidi dari pemerintah, sehingga mahasiswa dari kalangan buruh dan petani sangatlah kecil padahal mayoritas masyarakat berasal dari dua kelas tersebut. Hal ini kemudian diperparah dengan sulitnya mencari pekerjaan bagi para sarjana setelah lulus dari kampus.

Rezim Franco yang fasis dan totaliter dijadikan musuh bersama rakyat dan mahasiswa karena memang dianggap sebagai akar masalah. Aliansi mahasiswa dan rakyat melakukan mogok bersama pada tanggal 1-3 Mei 1968. Hal ini kemudian berakibat pada bentrokan dan penagkapan besar-besaran pada aktivis mahasiswa dan buruh. Namun perjuangan bersama antara mahasiswa dan buruh terus berjalan hingga rezim Franco runtuh.

Di Prancis pun tidak luput dari pergerakan mahasiswa. Perlawanan mahasiswa yang terjadi tahun 1968 ini dilatarbelakangi oleh adanya alienasi dalam kehidupan mahasiswa yang disebabkan oleh kampus. Mahasiswa dihadapkan pada sistem, struktur, dan kurikulum yang membuat mahasiswa semakin terk-eksklusi dari kehidupannya sendiri. Kampus membuat sistem ‘proletariat baru’ sehingga mereka tak diperkenankan dalam menentukan kehidupannya di kampus dan berpartisipasi dalam menentukan kurikulum. Semua sistem, struktur, dan kurikulum ditujukan hanya untuk memenuhi kebutuhan industri.

Mahasiswa kemudian berafiliasi dengan buruh dan elemen rakyat lain untuk menentang sistem yang menyebabkan ‘alienasi’ tersebut, yaitu kapitalisme. Perlawanan meluas  tak hanya di kampus saja, tetapi hampir di seluruh wilayah Perancis. Pertarungan ini naik-turun selama periode 1968 dan mempengaruhi kenyataan politik di Perancis masa itu.

Di Asia, pergerakan mahasiswa membahana pada periode 1980-an dan 1990-an. Masyarakat di sejumlah negara Asia mulai terlibat aktif dalam diskursus dan sekaligus gerakan civil society dalam mengimbangi negara (state) yang kebanyakan didominasi oleh rezim otoriter. Di Filipina pada tahun 1986 muncul gerakan people power atau revolusi EDSA yang dilakukan afiliasi buruh, petani, mahasiswa dalam rangka melakukan perlawanan terhadap rezim otoritarianisme Marcos. Di Indonesia lahir gerakan reformasi pada tahun 1998 yang digalang oleh afiliasi mahasiswa, buruh, petani untuk melawan rezim otoritarianisme Soeharto dengan Orde Baru-nya. Tahun 1987 di Korea Selatan lahir pula gerakan oposisional yang merupakan aliansi dengan berbagai elemen masyarakat bersama mahasiswa dalam perjuangannya mendelegitimasi rezim otoritarianisme.

Benang merah perlawanan dan gerakan mahasiswa di tiap negara lahir dari kondisi dan realitas yang dihadapi. Bila melihat berbagai pengorbanan bahkan nyawa dipertaruhkan demi sebuah perubahan, maka sangatlah penting untuk menanamkan jiwa pemberontak dalam diri mahasiswa untuk menentang ketidakadilan. Kaum yang tertindas harus dibebaskan dan itu dipelopori oleh kaum intelektual mahasiswa.

Jadi.. kemana gaung pergerakan mahasiswa kini? Indonesia tidak sedang baik-baik saja. Dan akan lebih buruk terperosok dalam jebakan imperialis-neolib jika kita, para mahasiswa, menikmati kebungkaman dalam apatisme.

Leave a Reply

%d bloggers like this: