Wednesday, December 13Kita mulai dari sini...

Konflik Horizontal Terus Dipupuk, Inilah Yang Hendak Ditutupi…

Oleh: Rizki Pangestu

Dalam sekurang-kurangnya dua tahun akhir ini Bangsa Indonesia sedang ditimpa banyak masalah, terutama masalah yang sedang hangat–hangatnya yaitu makin maraknya konflik horizontal di masyarakat. Hal ini diperparah dengan makin ditiupnya oleh para elit politisi pun penguasa untuk kepentingan mereka. Konflik horizontal yang diproduksi terus-menerus ini membuat masyarakat kita terfokus terhadap satu permasalahan ini, namun timbul sebuah pertanyaan yang mendalam yaitu apakah permasalahan inilah merupakan yang merupakan akar masalah dari krisis kebangsaan Bangsa Indonesia.

Mari kita menengok sejarah, dimulai dari dilakukannya Sumpah Pemuda pada tanggal 27 dan 28 Oktober 1928 merupakan awal dari kesatuan yang melahirkan bangsa Indonesia. Dihadiri oleh sejumlah perwakilan–perwakilan golongan dan agama seperti Jong Java, Jong Celebes,  Jong Sumateranen Bond, Jong Islamieten Bond dan yang lainnya, mereka berkumpul menjadi satu dan membuat sebuah sumpah yang dinamakan Sumpah Pemuda. Semenjak saat itu tak ada lagi perjuangan yang bersifat kedaerahan dan bersifat golongan agama untuk kemerdekaan dari penjajahan. Semenjak saat itu pula semua gerakan menjadi satu untuk memperjuangkan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Dan semua pergerakan di kemudian hari sudah harus jelas untuk Bangsa Indonesia, bukan lagi gerakan atas nama agama ataupun gerakan golongan-golongan.

Dan sebenarnya hak-hak perjuangan ini sudah diberi wadahnya untuk berjuang dalam wadah konstitusi yaitu di MPR. Utusan Golongan, Utusan Daerah, Partai Politik dipersilahkan untuk berdialektika di Majelis, dan lagi-lagi tetap harus dalam cakupan perjuangan yang tidak boleh menyimpang dari Pancasila dan UUD 1945 (sebelum UUD 1945 di Amandemen). Sehingga masyarakat tidak menjadi korban seperti ini, dibenturkan antar umat beragama, dibenturkan dalam kubu politik, padahal ternyata dimanfaatkan untuk ‘kekuasaan’ kelompok tertentu.

Dapat dilihat bahwa pada tahun 1928 rakyat Indonesia telah mengikrarkan menjadi satu kesatuan, namun apa yang sekarang terjadi berbanding terbalik, adalah konflik antar anak bangsa yang saat ini sering menghiasi layar kaca berita kita. Ini harus segera kita insyafi bersama jika kita masing menginginkan Bangsa Indonesia dan Negara Kesatuan Republik Indonesia tetap utuh.

Dari konflik horizontal yang terus dipipuk ini kita dapat melihat ada satu permasalahan yang hendak ditutupi yang menjadi akar kekacauan yang di hadapi Bangsa Indonesia setelah reformasi. Sebenarnya bangsa ini sedang mengalami permasalahan yang lebih berat dan serius. Yaitu konsistusi dasar negara ini yang sedang didalam bahaya besar, karena bangsa ini telah memakai sebuah konsistusi yang sangat bertolak belakang dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Semenjak Amandemen UUD dilakukan, bangsa Indonesia makin tak mempunyai arah, dan inilah yang seharusnya diketahui rakyat Indonesia. Hal ini Ini pula yang menjadikan konflik-konflik horizontal makin marak. Dalam UUD Amandemen, mengijinkan orang-orang untuk saling berserikat dan berkumpul hingga kebablasan. Dibuka kerannya untuk meneriakan ‘kebebasan’ atas nama demokrasi, tapi lupa bahwa dalam kebebasan selalu ada tanggung jawab, juga dalam kebebasan selalu ada hak-hak orang lain. Di sisi lain, Amandemen UUD menjadikan partai-partai menjadi beranak-pinak. Organisasi-organisasi sayap partai berbalur ormas mulai beranak juga dan inilah yang seringkali juga menjadi sarang konflik, karena membela kepentingan kekuasaan tertentu. Sehingga gerakan-gerakan yang muncul bukan lagi berbicara sebagai kepentingan Bangsa Indonesia untuk adil, makmur dah sejahtera.

Kita sebagai rakyat Indonesia seharusnya mengetahui permasalahan ini, dan mari mengawal isu ini menjadi isu kita bersama, karena inilah akar permasalahan yang dihadapi Bangsa Indonesia. Kita mengetahui bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia tidaklah berakhir dan terus akan berjuang sampai terciptanya masyarakat Indonesia yang adil makmur dan sejahtera. Dan dengan kita mengawal kembalinya konsistusi dasar kita menjadi UUD 1945 Asli, kita akan kembali menuju perjuangan kemerdekaan Indonesia yang diharapkan oleh pejuang–pejuang kemerdekaan Indonesia.

Leave a Reply

%d bloggers like this: