Wednesday, October 18Kita mulai dari sini...

Kisah Dari Tugu Muda Semarang: Kembali kepada Semangat 17 Agustus 1945

Pada hari Rabu pagi, 20 Mei 1953, Bung Karno meresmikan Tugu Muda di Semarang yang didirikan di Taman Merdeka di Bojong di muka stafkwatier divisi Diponogoro. Tugu tersebut dimaksudkan sebagai peringatan “pertempuran lima hari” yang dilakukan oleh Angkatan Muda dalam bulan Oktober 1945 melawan Jepang.

Tetapi sebagai lambang perjuangan kemerdekaan, tugu ini sesungguhnya didirikan oleh seluruh bangsa Indonesia, dari Sabang sampai Merauke yang telah menderita dan berjuang untuk kemerdekaannya, demikian kata Bung Karno dalam Pidatonya.

Pukul delapan lebih dua puluh menit Bung Karno tiba di lapangan terbang Kalibanteng dengan pesawat GIA dari Jakarta. Setelah memeriksa barisan kehormatan, presiden menuju ke Taman Merdeka untuk meresmikan tugu itu. Perhatian rakyat terhadap kepala Negara ini besar sekali. Berpuluh-puluh ribu penduduk telah menunggu berjejal-jejal di Taman Merdeka.

Sambutan

Gubernur Budiono menyambut kedatangan presiden dengan mengucapkan terima kasih atas nama rakyat akan kesediaan presiden untuk meresmikan tugu muda ini.

Setelah itu berbicara Walikota Hadisubeno sebagai ketua Panitia Tugu Muda. Ia mengenangkan kesulitan-kesulitan, terutama dalam lapangan keuangan, yang harus diatasi oleh panitia dalam usahanya untuk mendirikan tugu tersebut. Ia menyatakan terima kasih kepada mereka yang telah memberikan sumbangannya untuk melaksanakan usaha panitia.

Kemudian, Bung Karno sebagai presiden menarik kain yang menutupi tugu itu ke bawah dengan mendapat sambutan yang hangat dari para hadirin.

Pidato Presiden

Presiden Sukarno berkata dalam pidatonya, bahwa sungguh baik sekali untuk menghormati para pejuang yang telah gugur dalam perjuangan kemerdekaan yang baru lalu itu. Sebab demikian katanya, hanya suatu bangsa yang dapat menghormati pemimpin-pemimpin besarnya yang dapat menjadi jaya. Presiden menunjukkan kepada keindahan yang tak ada taranya dari tugu itu, hal mana menurut pendapatnya merupakan suatu bukti bahwa kesenian di Indonesia ini telah maju sekali. Ini sangat menggembirakan, demikian kata presiden, karena kesenian itu hanya dapat berkembang dalam suasana kemerdekaan.

Bung Karno memperingatkan, bahwa kemerdekaan yang telah dicapai yang ketika itu telah berlangsung selama tujuh tahun yang lalu itu belum tercapai seluruhnya, terutama dalam lapangan ekonomi. Untuk mencapai ini, demikian katanya orang harus bekerja dengan tak mengenal lelah.

Selanjutnya ia bertanya kepada para hadirin apakah mereka masih mau berjuang untuk kemerdekaan. Pertanyaan ini disambut dengan suara “ya” yang gemuruh.

Dalam hubungan ini Bung Karno menunjukkan bahwa, bangsa Indonesia harus menjaga persatuannya dan menjauhkan diri dari semangat partai-partaian.

Pada waktu bangsa Indonesia dijajah oleh Belanda, pihak penjajah di samping faktor-faktor kekuatan seperti tentara dan polisi, telah mempergunakan pula faktor-faktor yang abstrak dengan memasukkan semangat yang jelek dalam hati sanubari rakyat, sehingga rakyat menganggap imperialisme di samping provincial-isme sebagai suatu hal yang biasa. Sisa-sisa kini masih ada, kata Sukarno. Karena ini, kembalilah kepada semangat Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, semangat Gajah Mada, dan pulihkan persatuan bangsa Indonesia, demikian presiden mengakhiri pidatonya.

 

72 Tahun Merdeka

Sekarang pertanyaannya, ungkapan Bung Karno dalam peresmian Tugu Muda itu apakah telah kembali mengingatkan kita tentang perjuangan bangsa ini menjelang 72 tahun kemerdekaannya. Mungkin beliau akan menangis, karena ternyata hingga saat ini pun bangsa Indonesia belum merdeka seutuhnya.

Anak bangsa semakin menjadi terkotak-kotak dalam iklim kepartaian yang tidak sehat. Perebutan kekuasaan di mana-mana. Saling sikut dan saling tikam, teramat jauh dari upaya sinergi memperbaiki kondisi ekonomi bangsa pasca merdeka.

Semangat persatuan justru diporak-porandakan begitu saja demi kepentingan elit-elit semata. Padahal kita harus ingat bahwa Bung Karno dan para pendiri bangsa lainnya dengan tumpah darah para pahlawan-pahwalan bangsa berjuang memulihkan persatuan bangsa untuk terlaksananya cita-cita kemerdekaan yang belum sempurna itu, yaitu yang terdapat dalam Undang-Undang Dasar 18 Agustus 1945.

UUD 1945 sebagai suatu perjuangan setelah bersatunya bangsa Indonesia. Tetapi hingga saat ini UUD 1945 pun tampaknya hilang dengan wajah sama namun berbeda isi. Sehingga, mungkinkah persatuan bangsa dan perjuangan bangsa untuk merdeka sepenuhnya akan tercapai? Itulah polemik petanyaan yang harus dijawab masing-masing dari kita. UUD 1945 sebagai warisan pemimpin-pemimpin besar bangsa atas keringat perjuangan seluruh rakyat Indonesia dikhianati begitu saja.

Menjelang 72 tahun kemerdekaan, apakah kita telah menjaga Pancasila dan UUD 1945 Asli sebagai alat pemersatu dan perjuangan bangsa Indonesia untuk menyongsong masa depannya. Maka dari itu dalam mengenang semangat para pejuang, kembalilah pada semangat persatuan 17 Agustus 1945, dan semangat menyempurnakan kemerdekaan yang dimuat dalam UUD 18 Agustus 1945.

Jika Bung Karno masih hidup, mungkin dia akan bertanya kembali “apakah kita masih ingin berjuang melanjutkan kemerdekaan?”Dan hal yang perlu kita ingat baik-baik atas pesan Bung Karno bahwa,

hanya suatu bangsa yang dapat menghormati pemimpin-pemimpin besarnya yang dapat menjadi jaya”.

Janganlah kekacauan tata negara hingga konflik-konflik horizontal dalam nuansa reformasi ini menjadi sebuah anggapan hal yang biasa. Semoga laju perjuangan bangsa ini segera kembali pada rel yang semestinya. Dirgahayu Indonesia-Ku.

 

#HUTRI72

#RevolusiTotal

Leave a Reply

%d bloggers like this: