Monday, November 20Kita mulai dari sini...

Kesaktian Pancasila. Perayaan Pancasila Versi Orde Baru?

monumen-kesaktian-pancasilaTajuk Rencana Harian Kompas pada 1 Oktober 1996—tepat 20 tahun yang lalu—berjudul “Bagaimana mencoba menjelaskan menjadinya Pancasila sakti.” Tajuk tersebut—kurang-lebihnya—berupa suatu argumentasi mengenai pentingnya 1 Oktober tiap tahunnya diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Pada intinya, ia adalah peringatan kemenangan ideologi Pancasila atas ideologi lain yang mencoba merongrong persatuan dan kesatuan bangsa, yakni—terutama—komunisme. Tajuk tersebut lantas menjelaskan betapa langkah-langkah politik Partai Komunis Indonesia (PKI) pada waktu itu menimbulkan suasana mencekam yang penuh kengerian bahkan kekejaman.

Hanya berkat pertolongan Tuhan semata, rakyat bahu-membahu bersama Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, (ABRI)—diilhami oleh keyakinan akan kebenaran Pancasila—akhirnya sanggup menghentikan dan mengenyahkan rongrongan itu. Sampai setidaknya pada saat Tajuk tersebut ditulis, [1996] narasi ini memang merupakan penjelasan yang paling mapan dan nyaman mengenai salah satu penggalan sejarah perjalanan Bangsa Indonesia yang mungkin paling tidak nyaman dikenangkan. Namun demikian, khususnya bagi generasi terbaru Bangsa Indonesia, apa benar yang mengakibatkan episode tersebut begitu tidak nyaman dikenangkan?

Mereka yang baru lahir pada tahun 1960-an tentu tidak memiliki cukup ingatan mengenai apa yang tengah terjadi. Mereka yang lahir pada tahun 1970-an, terlebih lagi, tidak akan tahu apa-apa mengenainya. Jika pun episode itu paling tidak nyaman dikenangkan, itu lebih karena pengalaman menonton film “Pengkhianatan G30S-PKI” setiap tahunnya semasa kecil. Terus-terang, adegan putri Jenderal DI Panjaitan raup darah bapaknya, wajah Letnan Tendean yang sudah tidak jelas mana mata mana hidung-mulutnya, benar-benar mengilhamkan kengerian yang tidak kunjung hilang bahkan sampai kini ketika mereka sudah menjadi orang tua.

Terutama semenjak “Reformasi,” sekonyong-konyong segala sesuatu mengenai Orde Baru digugat, dicerca, dicaci-maki, tidak ketinggalan peringatan Kesaktian Pancasila, bahkan Pancasilanya sekali. Orang berkata, Orde Baru otoriter; demikian pula Pancasila dan UUD 1945—yang kepadanya Orde Baru bersumpah untuk melaksanakan secara murni dan konsekuen—dikatakan ideologi dan konstitusi yang memang didisain untuk membenarkan rezim otoriter. Bermunculanlah cerita-cerita kekejaman Orde Baru yang konon lebih mengerikan daripada yang dituduhkan telah dilakukan oleh kaum komunis terhadap lawan-lawannya.

Sekali lagi, apakah generasi Bangsa Indonesia kelahiran 1960-an dan 1970-an benar-benar mengalami sendiri cerita-cerita itu? Jangan-jangan, kebanyakan mereka hanya mengingat masa kecil yang indah, yang—bahkan jika dibandingkan dengan cerita mengenai masa-masa sebelum mereka lahir, juga dengan waktu-waktu terakhir ini ketika mereka telah dewasa—justru merupakan masa yang gilang-gemilang. Kegemilangan Orde Baru sebagai sebuah rezim tidak lain karena kesetiaannya kepada sumpah melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen—demikian pula, kejatuhannya karena khianat pada sumpah itu!

Pancasila mungkin sebuah filsafat, mungkin juga ideologi atau pandangan hidup, bisa jadi pula suatu grundnorm atau apapun; namun—lebih dari itu semua—Pancasila selamanya dan terutama adalah nasihat orangtua, kepada kita semua anak keturunan Bangsa Indonesia mengenai bagaimana caranya agar hidup selamat dunia akhirat. Semakin sering mengingat-ingatnya, semakin terdorong kita melaksanakannya, Insya Allah manfaatnya akan terasa berupa keselamatan dan keberkahan hidup. Melupakan bahkan mengingkarinya, naudzubillah, bisa berakibat kuwalat! Jadi, tidak masalah kiranya kapanpun kita memperingati Pancasila. Semakin sering semakin baik

Leave a Reply

%d bloggers like this: