Monday, November 20Kita mulai dari sini...

Kemunduran Jatidiri Bangsa dan Solusinya

189960352000202

Dunia saat ini memasuki zaman teknologi, dimana semua dapat dilakukan melalui teknologi. Hal tersebut merupakan suatu dampak era globalisasi yang tujuannya adalah membentuk masyarakat global. Di lain pihak timbul permasalahan di era globalisasi saat ini yang berujung pada terkikisnya jatidiri bangsa. Indonesia merupakan Negara merdeka, berdaulat, adil, dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 maka dengan demikian langkah yang harus dipertahankan adalah memelihara jatidiri bangsa Indonesia. Terkikisnya jatidiri bangsa Indonesia bermula dari  tindakan kaum reformis yang melakukan amandemen UUD 1945 yang jauh dari nafas pancasila sebagai jatidiri bangsa. UUD 1945 yang diamandemen sebanyak 4 (empat) kali oleh kaum reformis membuat bangsa Indonesia kehilangan jatidirinya. Akibatnya, bangsa Indonesia di zaman teknologi yang sedemikian rupa ini mengalami masalah besar karena hidup dengan suatu UUD yang tidak selaras dengan nafas Pancasila. Era reformasi sebagai suatu keniscayaan telah kita jalani selama 18 (delapan belas) tahun, penuh dengan euforia terbebas dari orde baru. Era Reformasi yang diliputi hawa nafsu liberalisme dan kapitalisme telah menerobos semua rambu nilai-nilai Pancasila yang selama ini susah payah kita pertahankan dan kita lestarikan. Sehingga wujud dan maknanya semakin sirna, semakin jauh dari cita-cita dan tujuan nasional masyarakat adil dan makmur berdasarkan UUD 1945 dan Pancasila.

Perubahan UUD 1945 sebanyak 4 (empat) kali telah menghasilkan suatu UUD yang liberalistik dan berakitbat kepada produk hukum yang diturunkannya. Hal tersebut juga berakibat terhadap kehidupan masyarakat Indonesia yang cenderung individualistis. Apabila melihat pada Pancasila yang menjadi jatidiri bangsa Indonesia adalah masyarakat yang hidup dengan sifat kekeluargaan dan budaya gotong royong. Di sisi lain, tidak hanya persoalan sosial budaya yang kehilangan jatidirinya, seperti sistem politik, ekonomi, sistem konstitusi, sistem pertahanan keamanan negara, dan sistem pemerintahan juga kehilangan jatidirinya akibat dari perubahan UUD 1945 sebanyak 4 (empat) kali.

Dalam tatanan praksis, perubahan UUD 1945 sebanyak 4 (empat) kali telah mengakibatkan keterpurukan politik. Politik yang awalnya merupakan sarana untuk mencapai tujuan bersama suatu masyarakat dalam mencapai kesejahteraan, kini seolah menjadi alat dari sekelompok orang demi keuntungan diri sendiri dan kelompok tertentu. Bung Karno dalam bukunya “Di Bawah Bendera Revolusi” pernah mengatakan bahwa suatu saat nanti Indonesia mengalami Rock n Roll nya demokrasi, dimana melihat keatas mencela, melihat kebawah menghina, melihat kesamping mengkritik. Hal tersebut apabila dikaitkan dengan kondisi praksis saat ini yaitu tidak ada tujuan bersama dari bangsa Indonesia. Kini seolah rakyat menjadi alat dari sekelompok orang yang ingin menguasai puncak kekuasaan.  Untuk memastikan tujuan bersama maka ditentukan adanya Garis-Garis Besar Halauan Negara (GBHN) dalam UUD 1945 yang kini sudah hilang akibat dirubahnya UUD 1945 sebanyak 4 (empat) kali oleh kaum reformis. Dihapuskannya GBHN berarti mencabut generasi penerus dari akar sejarahnya, dan membutakan mereka dari arah yang harus dituju di masa depan. Itulah sebabnya, bangsa Indonesia saat ini bergerak entah kemana, buta arah, tujuan dan hilang jatidirnya. Bukan mustahil kondisi ini sengaja diciptakan untuk memungkinkan bangsa Indonesia disetir oleh pihak-pihak asing untuk menjajah bangsa Indonesia tanpa melakukan agresi militer namun menjajah dengan menghilangkan jatidiri bangsa Indonesia.

Solusi untuk menjadikan bangsa Indonesia ini menjadi kembali memiliki jatidiri adalah mengembalikan dasar negara  yakni UUD 1945 yang selaras dengan Pancasila. Dan menjalankannya dengan murni dan konsekuen.

Leave a Reply

%d bloggers like this: