Wednesday, December 13Kita mulai dari sini...

Kembalikan Pancasila Pada Roh Dan Spiritnya

Oleh: Jacky Jamrewav, S.H.

Penulis adalah Ketua DPC GMNI Jakarta Pusat

 

Dinamika pertumbuhan kehidupan dan perkembangan kehidupan nasional Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia saat ini menunjukan sebuah fenomena pertentangan dan konflik yang sangat tinggi. Fenomena pertentangan dan konflik tersebut nampak dalam sistem dan hukum negara yang diatur dan dijalankan untuk melanggengkan penguasaan kaum yang kuat terhadap yang lemah.

Pembangunan negara yang dijalanan berdasarkan kebutuhan pasar dan kepentingan investor asing juga menunjukan sisi keberpihakan pemerintah yang lebih diprioritaskan pada kepentingan dan kebutuhan kaum kapitalis dan melupakan tugas serta tanggungjawabnya untuk menjalankan amanat penderitaan rakyat Indonesia yang diinginkan dan dibutuhkan oleh kaum pribumi yang masih lemah.

Berdasarkan kondisi dan fenomena ini, terlihat bahwa Pancasila sebagai ideologi yang berperan sebagai filsafat dasar negara telah dikorupsi untuk kepentingan individu dan kelompok tertentu, sehingga nilai utama dan substansial dari Pancasila diselewengkan untuk kepentingan penguasa atau pemimpin dan pengusaha. Proses Amandemen UUD 1945 telah menyelewengkan roh dan spirit serta karakter Pancasila dari Sosialisme Indonesia kepada kapitalisme global. Sudah cukup banyak kebijakan Negara, UU dan Perda yang mengalami tumpang tindih atau bertentangan terhadap nilai-nilai Pancasila.

UUD Amandemen 1999-2002 juga menghasilkan ‘super demokrasi liberal’ lewat pemilu langsung dari mulai Presiden sampai Kepala daerah (Gubernur, Bupati dan Walikota) bahkan pemilihan  kepala desa juga dilaksanakan dengan cara liberal. Konsep musyawarah untuk mencapai mufakat hanya sebatas teks, karena sistem operasionalnya telah dirombak menjadi sistem liberal melalui UUD Amandemen. Alhasil pemilihan kepala daerah secara langsung banyak melahirkan konflik horizontal di daerah-daerah yang berimbas terhadap retaknya persatuan dan kesatuan nasional. Keretakan tersebut diperparah oleh maraknya kaum komprador yang menunggangi aksi-aksi efek demokrasi liberal (Pilkada-pilkada) atas nama persatuan, kebhinekaan, hukum, keadilan, agama dan demokrasi (liberal).

Fenomena ini menunjukan kondisi negara yang kalut dan mencoba keluar dari roh dan spirit Pancasila dan hendak berusaha melakukan pembangunan negara berdasarkan spirit dan roh dari liberalisme dan kapitalisme yang secara nyata ditegaskan oleh Ir. Sukarno bahwa kedua ideologi itu bertentangan dengan amanat proklamasi 17 Agustus 1945 dan ideologi negara PANCASILA.

Situasi dan kondisi di Indonesia saat ini sangat ironis karena Pancasila sudah dikorupsi oleh banyak pihak untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Pancasila saat ini, hanya menjadi jargon-jargon ideologi yang hanya bisah “dipuja dalam kata, diagungkan dalam tulisan namun dihianati dalam perbuatan”.

Dalam problematika ini nampak sekali bahwa negara dan bangsa Indonesia juga mengalami keretakan dalam jiwa. Disebut negara mengalami keretakan jiwa, karena Negara dikuasai oleh pemimpin dan kaum elit yang menggandrungi loyalitas kembar atau loyalitas ganda. Dalam kondisi bangsa yang sangat ironis ini maka proses pengawalan untuk mengembalikan Negara pada rel yang benar yakni sesuai dengan roh dan spirit Pancasila sangatlah penting.

Mengembalikan roh dan spirit Pancasila yang dimaksud adalah bahwa PANCASILA benar-benar harus ditekan sebagai ideologi Negara dan falsafah Negara. Sebagai ideologi dan falsafah Negara maka konsekuensi dari itu adalah PANCASILA harus menjadi sumber dari segalah sumber hukum dan perundang-undangan  di Indonesia dan bahwa PANCASILA harus dilihat sebagai alat pemersatu bangsa sekaligus bintang penunjuk arah kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Dukunglah orang-orang lurus, tempatkan mereka diatas orang-orang menyimpang, maka Andapun akan meluruskan penyimpangan

Leave a Reply

%d bloggers like this: