Tuesday, April 24Kita mulai dari sini...

Jokowi Lagi? Kehabisan Stok Pemimpin?

oleh: Abu Duda

 

Sejak diumumkannya Jokowi sebagai Calon Presiden oleh PDIP pada rakernas PDIP ke III, di Grand Bali Beach, Sanur, Denpasar, Bali, Jumat (23/2/2018) waktu lalu, dinamika politik partai semakin menggeliat. Manuver-manuver dan serangkaian konsolidasi dilakukan partai-partai lain untuk bersaing mendapatkan perhatian.

Perhatian tersebut bukanlah perhatian untuk menjadi calon penantang Jokowi, melainkan menjadi calon RI2 pendamping Jokowi. Pasalnya partai-partai yang lebih dahulu mendeklarasikan untuk mengusung Jokowi sampai saat ini tengah terus mencari siapa yang pas untuk mendampingi Jokowi.

Namun  kalau kita pakai akal sehat, partai-partai besar lainnya kali ini serasa mati kutu. Mengais-ngais perhatian Banteng Merah, yang penting dapat jatah kursi. Sebuah ironi di saat partai tidak mau lagi mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan calon pemimpin yang progresif dan kualitas yang mumpuni sebagai pemimpin negara, tentunya selain Jokowi. Sebuah taktik ‘main aman’.

Bukan tidak boleh Yang Mulia Jokowi maju kembali, namun melihat situasi bangsa saat ini, secara bijaksana baiknya cukuplah satu periode. Beri kesempatan pada kader-kader lain maupun dari non-partai untuk kemudian diberi dukungan. Karena masih banyak calon-calon pemimpin bangsa ini yang belum terjamah padahal punya potensi yang besar.

Jangan biarkan pusaran kekuasaan hanya berputar pada lingkaran itu-itu saja. Reformasi tak ada beda jadinya. Menjelang 20 tahunnya, negara malah semakin  semrawut. Tak ada sinergi antara lembaga pemerintahan. Orang kaya makin kaya, orang miskin makin miskin. Pejabat korup makin happy. 50% kekayaan nasional tetap dikuasai 1% orang saja. “Jangan banyak impor” hanya berakhir jadi dagelan.

Masih ada waktu untuk mencari

Masih banyak kader partai yang mumpuni namun tidak bisa naik karena tidak punya kekuatan finansial, sehingga sulit didukung partai. Atau juga masih banyak calon-calon yang bukan dari partai yang punya kualitas yang mumpuni. Orang-orang ini hanya bisa muncul kalau para pemain politik partisan mau menurunkan ego dan kepentingan pribadinya.

Kalau Jokowi dianggap kader dan calon dengan kualitas terbaik yang tidak bisa ada lawannya sampai saat ini, ini bukti kelam dalam pendidikan politik dalam reformasi. Ketika jutaan kualitas manusia Indonesia lainnya terabaikan karena citra ‘wong cilik’.

Tapi tak heran jika kemudian bakal terus banyak yang menjilat Paduka Yang Mulia. Lumayan jika dikocok-kocok dapat arisan Komisaris BUMN. Ciamik!

Mungkin bisa dibilang begini, seperti jargonnya #t3tapJokowi , #PDIPm3nang, iya PDIP yang menang, bukan kepentingan rakyat dan cita-cita bangsa Indonesia yang menang.

Leave a Reply

%d bloggers like this: