Wednesday, December 13Kita mulai dari sini...

Indonesia Ladang Subur Terorisme, Kembalikan SISHANKAMRATA

Sungguh mengkhawatirkan, lagi-lagi rakyat disuguhkan aksi terorisme oleh pihah-pihak yang jelas tidak berperikemanusiaan. Aksi-aksi teror bom di Indonesia bukan lagi menjadi barang langka. Motif pelaku beraneka rupa, mulai dari sekedar menyatakan eksistensi diri, kontra pemerintahan, hingga jaringan teror internasional.

Setidaknya sejarah telah mencatat buruknya sistem pertahanan dan keamanan di Indonesia seiring bergulirnya reformasi.

1998: Pada awal reformasi Januari 1998, bom meledak di rumah susun Senen, Jakarta. Di tahun yang sama tempat parkir kendaraan di Atrium Plaza di Jakarta Pusat, diledakkan. Sejumlah mobil rusak berat.

1999: Pusat perbelanjaan Ramayana di Jalan Agus Salim (dikenal sebagai Jalan Sabang), Jakarta Pusat, diledakkan sehingga merusak bagian toko itu. Pelakunya sama dengan pelaku di Atrium Plaza, pusat perbelanjaan Senen, Jakarta Pusat pada 1998. Di tahun ini pula pusat perbelanjaan Plaza Hayam Wuruk di Jakarta Barat, diledakkan sejumlah pemuda yang mengaku anggota Angkatan Mujahidin Islam Nusantara.

Malam Natal 2000: Sejumlah gereja yang dipenuhi jemaat yang merayakan Malam Natal di Jakarta, Bekasi, Sukabumi, Bandung, Mojokerto, Mataram, Pematang Siantar, Medan, Batam, dan Pekanbaru, diledakkan. Inilah awal keterlibatan Hambali dalam rangkaian teror di Indonesia. Pria asal Cianjur yang ditangkap di Ayutthaha, Thailand, 2003, oleh aparat intelijen Thailand. Ia menunjuk Imam Samudra untuk pelaksana aksi teror di Batam dan Idris alias Gembrot untuk Pekanbaru.

1 Agustus 2000: Bom meledak di kediaman Duta Besar Filipina untuk Indonesia, di Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, dan menewaskan dua stat kedutaan besar negara ASEAN itu.

September 2000: Bom dengan skala besar meledak di tempat parkir Gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ). Korban tewas 10 orang, terluka 15 orang dan puluhan mobil rusak. Peristiwa ini sempat mengguncang bursa nasional.

Juli 2002: Bom meledak dan mengagetkan warga Cijantung, Jakarta Timur, karena terjadi di Graha Mall Cijantung, Jakarta, dekat komplek Kopassus TNI AD. Graha Mall Cijantung dimiliki yayasan yang bernaung di bawah Kopassus TNI AD.

12 Oktober 2002: Bom meledak di Paddy’s Cafe dan Sari Club, dua restoran di Jalan Legian, Kuta, Denpasar, Bali. Tiga ledakan terjadi di dekat kantor konsulat Amerika di Renon, Denpasar. Ledakan di Legian menewaskan 187 orang dan 385 luka-luka. Teror ini terkenal dengan tragedi Bom Bali I.

5 Agusutus 2003: Bom meledak di Hotel JW Marriot, Jakarta. Pelakunya, Asmar Latin Sani, alumnus Pesantren Ngruki, yang mengendarai Toyota Kijang berisi bahan peledak. Model bomnya mirip bom Bali yang menggunakan bahan campuran organik dan anorganik. Korban  tewas 14, dan luka-luka 156.

1 Oktober 2005: Bom meledak di Kuta Bali. 22 orang tewas dan 196 orang luka-luka. Bom meledak di tiga tempat: Kafe Nyoman, Kafe Menega, dan Restoran Raja’s di Kuta Square, Denpasar.  Tragedi ini kerap disebut Bom Bali II.

10 September 2006: Bom meledak di Kedutaan Besar Australia, Jakarta. Jumlah korban sekitar 6 sampai 9 orang. Yang tewas satpam kedubes dan pemohon visa.

17 Juli 2009: Bom meledak di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton. Ledakan bom Marriot merupakan yang kedua kalinya, setelah 2003. Sembilan korban tewas dan puluhan luka-luka.

April 2015: Sedikit-dikitnya empat orang cedera akibat ledakan di permukiman padat penduduk di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu petang itu. Ledakan terjadi di dalam sebuah rumah bedeng dari papan dan tripleks di sudut sebuah lapangan di belakang Gang Kayu Mati, Jalan Jatibunder, Tanah Abang, sekitar pukul 15.00 WIB.

Juli 2015: Bom meledak di Mall Alam Sutera, Tangerang, Banten.

28 Oktober 2015: Bom kembali meledak di Mall Alam Sutera. Saksi mata menerangkan ada suara ledakan pada pukul 12.05 di dalam toilet kantin karyawan di lantai LG Mal Alam Sutera. Polisi menangkap seorang pelaku tunggal.

November 2015. Ledakan terjadi di Jalan Raden Inten, Duren Sawit, Jakarta Timur, pada Senin (16/11) dini hari WIB. Berdasarkan keterangan sejumlah saksi mata kepada aparat, ledakan berlangsung di seberang Gedung Senam, pada pukul 03.30 WIB. Diduga pelaku memakai granat tangan.

Tahun 2016, Indonesia menjadi korban aksi teror seperti yang terjadi di Thamrin, Surakarta, Tangerang.

Mei 2017, ledakan bom terjadi di Kampung Melayu pada Rabu, 24 Mei 2017 pukul 21.00 WIB di toilet umum, seberang halte Transjakarta Terminal Kampung Melayu. Ledakan terjadi dua kali dengan selisih waktu sekitar 5 menit, yaitu pada pukul 21.00 WIB dan pukul 21.05 WIB.Peristiwa tersebut mengakibatkan lima orang meninggal. Dua orang diduga sebagai pelaku dan tiga anggota Polri. Sedangkan, 11 orang mengalami luka-luka.

Perlunya Restorasi Sistem Pertahanan dan Keamanan

Terorisme adalah kejahatan luar biasa yang menjadi musuh dunia. Risiko dari aksi terorisme sangat tinggi, nyawa manusia menjadi korban. Terorisme juga menganggu stabilitas keamanan yang berdampak pada bidang lain seperti ekonomi, sehingga secara langsung maupun tidak langsung terorisme akan berdampak negatif terhadap masyarakat.

Namun sungguh sangat ironi, kejahatan yang luar biasa itu seolah tak bisa dibendung oleh sistem hukum negara kita. Terorisme dimasukan dalam UU tindak pidana dalam wilayah kepolisian. Jadi secara singkat bahwa tidak bisa dilakukan langkah preventif. Pelaku teror tidak bisa ditumpas sebelum bom mereka ledakan, dan konyolnya penindakan selalu terbentur atas narasi politik berbau HAM. Padahal jelas-jelas aksi teror bukankah telah melanggar HAM lebih banyak orang? Dengan demikian Indonesia menjadi ladang yang subur untuk para teroris berlindung.

Seharusnya penanggulangan teror bukan dimulai sesaat setelah insiden terjadi dan berakhir ketika teroris ditindak. Penanggulangan teror bersifat berkelanjutan, mulai dari pencegahan, penindakan, perlindungan dan persiapan. Setiap pelibatan elemen dari satu aktor keamanan, bahkan aktor non negara, mensyaratkan adanya koordinasi nasional yang responsif dalam penanganan terorisme. Maka dari diperlukan pengaktifan kembali TNI dalam masalah penanggulangan terorisme. Padahal jika mengacu pada UUD 1945 yang asli, sistem pertahanan dan keamanan kita harusnya menggunakan SISHANKAMRATA.

SISHANKAMRATA adalah suatu Sistem Pertahanan Keamanan dengan Komponen yang terdiri dari seluruh potensi, kemampuan, dan kekuatan Nasional yang bekerja secara total, integral serta berlanjut untuk mewujudkan kemampuan dalam upaya Pertahanan Keamanan Negara.

SISHANKAMRATA merupakan amanat Konstitusi yang didasari oleh UUD Tahun 1945 yaitu “Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan perdamaian abadi dan keadilan sosial”.

Dalam Pasal 30 ayat (1) UUD 1945 Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara”.

Negera mempunyai beberapa komponen dalam upaya mewujudkan pertahanan nasional rakyat semesta, yaitu :

  • Komponen Dasar, rakyat terlatih sebagai komponen dasar yang mampu melaksanakan ketertiban umum, perlindungan keamanan, serta perlawanan rakyat dalam rangka mempertahankan Stabilitas dan keamanan negara.
  • Komponen Utama, Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Republik Indonesia sebagai komponen utama dalam aspek sishankamrata.
  • Komponen Khusus, masyarakat sebagai komponen khusus mempunyai fungsi menanggulangi bencana perang, bencana alam, atau bencana lainnya yang mengakibatkan kerugian jiwa dan harta benda. Seperti linmas dan hansip.
  • Komponen Pendukung, sumber daya alam, prasarana nasional, sumberdaya buatan sebagai komponen pendukung untuk peningkatan, kelangsungan serta kelancaran dalam mempertahankan keamanan negara.

Maka dari itu sudah seharusnya untuk memperkuat kedaulatan pertahanan dan keamanan NKRI, terlebih dari aksi-aksi teror yang sudah jelas melanggar nilai-nilai hak asasi manusia, diperlukan kembali SISHANKAMRATA.

(Tim Redaksi)

 

Leave a Reply

%d bloggers like this: