Saturday, November 18Kita mulai dari sini...

Guruku Malang, Pendidikanku Terlantar

Hari guru mewakili sebuah kepedulian, pemahaman, dan apresiasi yang ditampilkan demi peran vital guru, yaitu mengajarkan ilmu pengetahuan dan membangun generasi.

Di Indonesia, hari guru diperingati pada tanggal 25 November. Sedangkan di dunia hari guru diperingati setiap tanggal 5 Oktober sejak tahun 1994. Tujuan diperingatinya hari ini adalah untuk memberikan dukungan kepada para guru di seluruh dunia dan meyakinkan mereka bahwa keberlangsungan generasi di masa depan ditentukan oleh guru. Hari guru adalah hari di mana kita memperingati jasa yang selama ini telah diberikan oleh sang pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka dengan ikhlas menyampaikan ilmu yang telah mereka peroleh semasa menuntut ilmu. Mereka mengamalkan ilmu mereka kepada para calon penerus bangsa ini.

Guru merupakan pendidik yang menjadi tokoh, panutan dan identifikasi bagi para peserta didik terhadap lingkungannya. Oleh karena itu, guru harus memiliki standar kualitas tertentu, yang mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri dan disiplin. Peran guru sebagai pendidik (nurturer) berkaitan dengan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak untuk memperoleh pengalaman-pengalaman lebih lanjut seperti penggunaan kesehatan jasmani, bebas dari orang tua, dan orang dewasa yang lain, moralitas tanggung jawab kemasyarakatan, pengetahuan dan keterampilan dasar, hingga hal-hal yang bersifat personal sampai spiritual. Oleh karena itu tugas guru dapat disebut pendidik dan pemeliharaan anak. Guru sebagai penanggung jawab kedisiplinan anak harus mengontrol setiap aktivitas anak-anak agar tingkah laku anak tidak menyimpang dengan norma-norma yang ada.

Namun yang terjadi pada Indonesia sekarang ini sungguh ironis, melihat banyak nasib guru kurang mendapat perhatian. Melihat peran guru yang sangat besar terhadap perkembangan moral dan jati diri bangsa, seharusnya pemerintah lebih perhatian akan masa depan guru.

Jika dihubungkan dengan peristiwa yang akhir-akhir ini terjadi di Indonesia, maraknya isu SARA yang sedang mewabah, menunjukan bahwa Indonesia masih butuh pengajar atau pendidik yang kompeten sehingga dapat menghasilkan masyarakat dengan kualitas tinggi.

Sektor Pedidik seharusnya mengkoreksi betul, kurangnya pemahaman dan penafsiran masyarakat atas isu dan fakta yang muncul di ruang publik sehingga negara kesatuan kita dapat sangat mudah untuk dipecah belah.

Menurut Saifur Rohman Pengajar Program Doktor Ilmu Pendidikan di Universitas Negeri Jakarta pada Harian Kompas 24/11/16 menjelaskan “Jika merujuk pada rencana pembelajaran, salah satu keluaran dari pendidikan kewarganegaraan di sekolah adalah pembiasaan kehidupan yang sesuai dengan asas-asas ideologi bangsa. Pembiasaan memerlukan situasi, motivasi, dan keyakinan peserta didik. Karena itu, pendidikan tersebut jelas membutuhkan daya dukung dari disiplin ilmu lain sehingga memperoleh legitimasi yang cukup” jadi pentingnya penanaman pedidikan kewarganegaran semenjak dini yaitu agar dapat menjadi masyarakat yang mempunyai jati diri Indonesia.

(Agus Syafei)

Leave a Reply

%d bloggers like this: