Saturday, November 18Kita mulai dari sini...

Evaluasi Anggota DPR Kalangan Artis

Adanya pernyataan yang menyebutkan kehadiran artis membuat kualitas DPR rendah kini tengah menjadi polemik. Bahkan rumor yang beredar, Sejumlah artis yang kini menjadi politisi di DPR dianggap tak memiliki peran yang signifikan. Rumor ini juga terus berkembang dengan adanya usulan pembatasan calon DPR dari kalangan artis di Pemilu mendatang.

Pada Pemilu 2014, ada 5 artis yang duduk di parlemen, kemudian pada Pemilu 2009 naik menjadi 16 orang, dan Pemilu 2014 menjadi 15 orang. Meski secara jumlah DPR dari kalangan artis bertambah, publik sejatinya mulai meragukan kinerja mereka.

Terbukti hasil survei menjelang Pemilu 2014 yang dilakukan Pol-Tracking Institute, di mana caleg dengan latar belakang selebriti hanya dipilih 16,8 persen responden dibanding caleg berlatar belakang politisi yang dipilih 50,9 persen responden. Ini menunjukkan bahwa publik sebenarnya lebih percaya kepada caleg dengan background politisi murni untuk memperjuangkan aspirasinya.

Apa yang terlihat di parlemen sekarang salah satunya merupakan potret kinerja parpol. Rakyat sejatinya tidak mempermasalahkan apa pun latar belakang profesi seorang anggota DPR. Sejauh memiliki kualitas teruji dan bisa dipertanggungjawabkan, ia layak menginjak karpet merah parlemen, “menakhodai” suara dan kepentingan rakyat.

Ketika kinerja DPR disorot karena pelaksanaan fungsinya yang lemah sebagaimana tergambar dalam berbagai survei independen, publik mulai mengaitkannya dengan eksistensi dan kinerja dewan dari kalangan artis. Tidak sedikit yang bilang, mereka kebanyakan diam dan tidak menunjukkan kerja berkualitas di DPR. Bahkan, ada yang lebih fokus mengisi acara di TV ketimbang bekerja mengunjungi konstituennya.

Menurut Umbu T.W Pariangu dosen Fisipol Undana, bukankah Soekarno dalam risalahnya, Mencapai Indonesia Merdeka (1933), dengan gamblang mengatakan, partai harus memiliki penguasaan ideologi secara radikal sebagai panduan sakral untuk membumikan nilai-nilai demokrasi bagi kesentosaan rakyat. Tanpa itu, partai hanya akan menjadi gincu dan wadah peruntungan demokrasi. Semoga ini jadi cambuk bagi DPR berlatar artis agar tidak mengkhianati rakyat dengan menjadikan kursi DPR sebagai tempat gincu, meraih peruntungan politik.

(Olive)

Leave a Reply

%d bloggers like this: