Wednesday, December 13Kita mulai dari sini...

Ekonomi Bukanisme?

Oleh: As’ad , Mahasiswa FEB UI

 

Indonesia sebagai negara yang besar seharusnya kuat dalam segi ekonomi. Namun, kenyataannya hingga sekarang Indonesia masih tergantung oleh negara asing. Ini sangatlah berhubungan dengan sistem ekonomi yang kita pakai. Permasalahannya kita pakai sistem ekonomi apa? Tidak jelas. Bahkan orang asing pun mengira kita adalah negara berkepribadian ganda, dualistik, yang lebih parah lagi, ada yang menganggap kita menganut sistem ekonomi bukanisme, bukan kesana, bukan kesini, dan bukan kesitu. Padahal jelas, sistem ekonomi yang seharusnya kita jalankan adalah sistem ekonomi pancasila.

Sistem ekonomi pancasila sendiri adalah sistem ekonomi yang keberpihakannya jelas kepada rakyat, keberpihakan yang diperkuat dengan subjek kerakyatan. Ekonomi kita adalah ekonomi yang merakyat, yang komandonya dibawah pemimpin yang bijaksana, yang pengambilan keputusannya terwakilkan, dengan cara sopan dalam bentuk musyawarah.

Keberpihakan itu dijiwai dengan keadilan. Keadilan yang menyeluruh, yang dapat dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Keadilan itu dilaksanakan oleh manusia dalam artian rakyat Indonesia, dalam bentuk kemanusiaan yang dapat berlaku adil, dan kemanusiaan yang beradab. Bukan hanya itu, manusia itu juga harus tunduk pada kekuatan yang maha besar, kekuatan yang hanya dimiliki oleh tuhan. Tuhan Yang Maha Esa, yang tidak bisa diduakan oleh ciptaannya. Pengamalan dari itu semua terwujud menjadi satu dalam sebuah persatuan, yaitu Persatuan Indonesia.

Nyatanya bukan sistem ekonomi seperti itu yang sekarang di jalankan Indonesia. Prinsip egalitarianism yang seharusnya menjadi dasar dalam pengambilan keputusan, malah dirubah dengan prinsip capitalism yang jelas-jelas bertentangan dengan nilai-nilai dalam pancasila. Asas kekeluargaan yang seharusnya menjadi dasar pelaksanaan ekonomi, malah dirubah menjadi profit-oriented. Bagaimana Indonesia mau maju? Generasi mudanya saja belajar agar kelak menjadi orang kaya, bukan berguna bagi nusa dan bangsa.

Pasal 33 dan pasal 27 (2) UUD 1945 sudah sangat jelas memerintahkan untuk menggunakan ekonomi pancasila sebagai sistem ekonomi negara Indonesia. Lalu, apalagi yang membuat kita masih menjadi kacung ekonomi barat? Dosa masa lalu, itu sebabnya Indonesia sulit berubah. Keterikatan Indonesia dengan lembaga moneter seperti IMF, ADB, dan World Bank dalam utang-piutang, membuat mereka bisa memaksa Indonesia menggunakan sistem ekonomi mereka.

Masih hangat dalam ingatan, ketika IMF memaksa Indonesia untuk menahan suku bunga di tingkat 70% hanya untuk tujuan mengapresiasi rupiah di masa krisis 1998. Sayangnya seperti kita ketahui, kebijakan itu malah membuat ekonomi kita macet karena bunga pinjaman yang terlalu tinggi membuat para pengusaha tidak bisa melakukan pinjaman karena memang terlalu berisiko. Di sisi lain, jika bank yang mengalah, dampaknya adalah negative speared. Padahal, jika waktu itu kita berani untuk merealisasikan rencana menggunakan kurs tetap, mungkin tidak begini sekarang keadaannya.

Permasalahan yang tidak kalah signifikan adalah kurangnya rasa nasionalisme Rakyat Indonesia. Bagaimana tidak? Korupsi sudah menjadi hal biasa, narkoba sudah merambah ke segala usia, kebodohan, kemiskinan, dan segala masalah fundamental yang membuat kita sulit untuk bangkit. Sadarlah, ketika Soekarno merumuskan pancasila, dia merujuk Kerajaan Majapahit dan Sriwijaya yang harum namanya dan madani rakyatnya, sadarlah bahwa dia percaya kelak penerusnya memiliki jiwa yang galak nasionalismenya. Sadarlah yang Soekarno dan para pejuang lakukan adalah perjuangan nyata untuk merdeka. Panduannya sudah diberikan, tinggal diamalkan.

Langkah konkret yang bisa dilakukan untuk mewujudkan sistem ekonomi pancasila yang paling mendasar adalah peduli. Peduli dengan keberlangsungan Indonesia, menghilangkan rasa mau menang sendiri, menanamkan paradigma bekerja untuk kepentingan bersama, bukan malah individualis dan apatis. Ini bukan tidak menghargai karya atau kehebatan perorangan, pancasila sangat menghargai itu, tetapi ini adalah budaya turun-temurun, warisan nenek moyang. Dalam pidatonya, Bung Karno menyebut ini sebagai gotong royong.

Generasi penerus berkewajiban untuk memperbaik sistem perekonomian yang jelas-jelas salah dan tidak berpihak pada rakyat Indonesia. Sebab sistem ekonomi kapitalis yang hampir di setiap lini menjadi pedoman aktivitas perekonomian Indonesia, tujuannya sangat jauh berbeda dengan sistem ekonomi yang ada dalam pancasila. Mimpi tentang sebuah negara yang merdeka sepenuhnya kelak akan tercapai, permasalahannya kita mau atau tidak.

Leave a Reply

%d bloggers like this: