Thursday, February 22Kita mulai dari sini...

Polkum

Politik & Hukum

Kembali ke UUD 1945 Solusi Keterpurukan Bangsa (III)

Kembali ke UUD 1945 Solusi Keterpurukan Bangsa (III)

Polkum
Kembali ke yang Asli, tanpa Amandemen! Mengapa harus takut pada UUD 1945 yang asli, yang dianggap fasis dan otoriter? Jika ternyata dengan menjadi integralistik, Indonesia berdaulat dan mampu menyejahterakan seluruh rakyat Bangsa Indonesia, mengapa tidak? Apakah ada keberatan dari para pelaku usaha dan investor, jika dengan menjadi integralistik itu, Indonesia ternyata lebih memberikan jaminan berusaha dan berinvestasi? Sebegitu tidak relakah para penganjur hak asasi manusia melihat saudara-saudaranya sendiri sejahtera dengan bekerja lebih keras? Apakah negara Indonesia lantas menjadi tidak demokratis karena menganggap diri satu keluarga besar sebangsa yang menegara? Siapa tahu, dalam negara kekeluargaan Indonesia, justru rakyat lebih berdaulat, karena dalam suasana ini tidak ada sal...
Kembali Ke UUD 1945 Solusi Keterpurukan Bangsa (II)

Kembali Ke UUD 1945 Solusi Keterpurukan Bangsa (II)

Polkum
Negara Indonesia, demikian Soepomo, terbentuk dari persatuan Bangsa Indonesia yang dijiwai oleh kekeluargaan (gesamtakt), logika mana bersitentang secara diametral dengan logika kontrak sosial (vertrag), dan tentu saja menghasilkan implikasi yang berbeda pula. Ketika itu, para Pendiri Negara yang lain, apa pun akar pemikirannya, menerima konsep gesamtakt ini sebagai salah satu dasar negara, yang tampak dalam Pembukaan UUD 1945. Sialnya, kini UUD 1945 di tambal-sulam dengan gagasan-gagasan yang sama sekali bertolak belakang dengan konsep gesamtakt. Gagasan-gagasan yang kiranya berakar pada konsep vertrag dipaksa-masukkan, dan membuat senjang hubungan antara warganegara dan negara. Negara hanya dipahami sebagai penyelenggara pemerintahan, sedangkan warganegara seakan dipandang sebagai sek...
Kembali Ke UUD 1945 Solusi Keterpurukan Bangsa (I)

Kembali Ke UUD 1945 Solusi Keterpurukan Bangsa (I)

Polkum
Politik telah mengalami kemerosotan dalam pemahaman maupun pelaksanaannya pada tataran praksis. Politik, yang pada awalnya merupakan sarana pengejawantahan tujuan bersama suatu masyarakat dalam mencapai kesejahteraan bersama, kini seolah menjadi alat dari sekelompok orang demi keuntungan diri semata. Politik saat ini ibarat jauh panggang dari api, di mana rakyat tetap saja tidak mendapatkan kebaikan apapun dari berbagai janji yang ditebar. Awalnya rakyat dielu-elukan sebagai penyampai suara Tuhan. Pada kenyataannya, rakyat hanya menjadi bahan bakar untuk mengantarkan sekelompok elit ke pusat kekuasaan. Rakyat, sebagaimana solar yang telah dibakar dalam mesin diesel, akhirnya tinggallah sekadar asap jelaga yang dibuang melalui knalpot. Negara merupakan wadah termutakhir bagi bekerjanya p...