Tuesday, May 22Kita mulai dari sini...

Polkum

Politik & Hukum

Demokrasi Indonesia Bukan Sebatas “One Man One Vote”

Demokrasi Indonesia Bukan Sebatas “One Man One Vote”

Hankam, Ideologi, Polkum
Oleh Dwi Gema Kumara Mahasiswa Magister Filsafat , Universitas Indonesia Pada hari Rabu pagi 20/05/53 Presiden Sukarno telah meresmikan Tugu Muda di Semarang yang didirikan di Taman Merdeka di Bojong di muka stafkwatier divisi Diponegoro. Tugu tersebut dimaksudkan sebagai peringatan "pertempuran lima hari" yang dilakukan oleh Angkatan Muda dalam bulan Oktober 1945 melawan Jepang. Tetapi sebagai lambang perjuangan kemerdekaan, tugu ini sesungguhnya didirikan untuk seluruh bangsa Indonesia, dari Sabang sampai Merauke yang telah menderita dan berjuan untuk kemerdekaannya, demikian kata Presiden Sokarno dalam pidatonya. Pukul delapan lebih duapuluh menit Preseden Sukarno tiba dilapangan terbang Kalibanteng dengan pesawat GIA dari Jakarta. Setelah memeriksa barisan kehormatan, Presiden m
Kampus Fasis Patut Dilawan

Kampus Fasis Patut Dilawan

Polkum
Neo-fasisme yang dijalankan oleh Orde Baru memang sudah runtuh pada 1998. Namun sistem yang dijalankan Orde Baru masih tersisa dan menyusup ke dalam kampus. Adalah Keputusan Dirjen Pendidikan Tinggi nomor 26/DIKTI/KEP/2002 tentang Pelarangan Organisasi Ekstra Kampus atau Partai Politik dalam Kehidupan Kampus. Dalam peraturan tersebut, diputuskan bahwa "melarang segala bentuk organisasi ekstra kampus dan Partai Politik membuka Sekretariat (Perwakilan) dan atau melakukan aktivitas politik praktis di kampus." Sebuah kebijakan yang sebenarnya sudah usang tapi masih diagungkan oleh para pejabat kampus untuk membungkam kebebasan berserikat dan berorganisasi para mahasiswa. Kebijakan usang ini wujud baru dari kebijakan Orba yang dicetuskan sekitar tahun 1979 dikenal dengan Normalisasi Kehidupa...
Bangsa yang Krisis

Bangsa yang Krisis

Kesra, Polkum
Dalam beberapa diskusi politik dan kebudayaan hari-hari ini, setidaknya ada 3 (tiga) wilayah permasalahan. Pertama, kenyataan minimya dan tidak adanya teladan yang baik dari para pemimpin kita, sehingga sia-sia lah usaha pendidikan nilai dan karakter sebagai solusi pintasnya. Kedua, gejala putus asa akan adanya perbaikan dalam hidup berbangsa dan bernegara pasca reformasi yang kurang lebihnya berumur 18 (delapan belas) tahun, padahal pada awalnya diharapkan mampu memberikan kebaharuan dalam cara bernegara kita dalam sistem politik yang demokratis dengan pembagian 3 (tiga) kekuasaan yang saling mengawasi antara yudikatif, legislatif dan eksekutif. Di tambah dengan maraknya kasus korupsi serta politik transaksional yang terus menggebu untuk berlomba memenuhi kepentingan ego partai politik. A...
Kembali ke UUD 1945 Solusi Keterpurukan Bangsa (III)

Kembali ke UUD 1945 Solusi Keterpurukan Bangsa (III)

Polkum
Kembali ke yang Asli, tanpa Amandemen! Mengapa harus takut pada UUD 1945 yang asli, yang dianggap fasis dan otoriter? Jika ternyata dengan menjadi integralistik, Indonesia berdaulat dan mampu menyejahterakan seluruh rakyat Bangsa Indonesia, mengapa tidak? Apakah ada keberatan dari para pelaku usaha dan investor, jika dengan menjadi integralistik itu, Indonesia ternyata lebih memberikan jaminan berusaha dan berinvestasi? Sebegitu tidak relakah para penganjur hak asasi manusia melihat saudara-saudaranya sendiri sejahtera dengan bekerja lebih keras? Apakah negara Indonesia lantas menjadi tidak demokratis karena menganggap diri satu keluarga besar sebangsa yang menegara? Siapa tahu, dalam negara kekeluargaan Indonesia, justru rakyat lebih berdaulat, karena dalam suasana ini tidak ada sal...