Saturday, September 22Kita mulai dari sini...

Opini Publik

Filsuf dan Problematika Bangsa

Filsuf dan Problematika Bangsa

Opini Publik
Oleh: Dwi Gema Kumara S,Hum.   Jika Al Ghazali menulis karya Tahafut Al Falasifa untuk mengkritik materialisme Aristotelian, maka ijinkan saya menulis satu kerancuan yang terjadi hari-hari ini dalam dunia studi filsafat. Empat tahun mengenyam studi filsafat, ditambah berusaha menyelesaikan program Master Filsafat, saya rasa kritik ini sudah pantas saya lancarkan kepada pembelajar filsafat dan para akademisi senior yang menjadi ahli filsafat atau masyarakat umum yang tertarik pada kajian-kajian filosofis. Untuk para senior anggap saja ini bentuk kecintaan saya dalam mengingatkan kakaknya, untuk para junior anggap saja ini wejangan dari kakak terhadap adiknya. Kekhawatiran ini muncul sebagai rasa tanggung jawab saya setelah mengucapkan janji wisudawan saat wisuda, yang salah satun...
Urgensi Kembali ke UUD’45 Asli

Urgensi Kembali ke UUD’45 Asli

Opini Publik
Oleh: Ilham Oetomo, Mahasiswa Sastra Belanda UI Menurut sebuah lembaga donor internasional, Fund For Peace, Indonesia menempati urutan ke 64 negara gagal di dunia. Negara yang menempati posisi puncak sebagai negara gagal adalah Somalia (Fund For Peace, Index; 2011). Fund For Peace, membuat index kegagalan negara melalaui penelitian dan survey yang melibatkan 177 negara di dunia. Memang peringkat Indonesia masih lebih baik dibanding Timor Leste, Papua nugini, dll. Namun kedudukan Indonesia masih dibawah beberapa Negara ASEAN seperti Malaysia (115), Thailand (71) dll. Kenapa bisa? Toh sumber daya alam Indonesia sangat melimpah di segala sektor? Hal ini karena minimnya peran pemerintah dalam membuat kebijakan untuk mengintervensi kebijakan pasar komoditasnya. Berbeda dengan Malaysia yang s
Mewarisi Api Revolusi: Jangan Lagi Dipandang Sebatas Euforia Semu

Mewarisi Api Revolusi: Jangan Lagi Dipandang Sebatas Euforia Semu

Opini Publik
Oleh: Faishal Hilmy Maulida, Mahasiswa Magister Ilmu Sejarah UI Kerap kali setiap memasuki bulan November selalu ‘dikultuskan’ sebagai bulan patriotik. Bahkan mengaitkan semangat 28 Oktober 1928 dengan semangat 10 November 1945 antara spirit kepemudaan dengan semangat patriotisme dalam revolusi Indonesia, tentu masanya jelas beda, meskipun nafasnya sama. Hanya saja meneladani tanpa melestarikan bagaikan mewarisi abunya, bukan apinya. Sebagaimana dikatakan oleh Panglima Besar Revolusi, Soekarno ketika masa pengasingan (1934-1941) di Endeh, Flores, NTT, 18 Agustus 1936, “….Tetapi apa jang kita ‘tjutat’ dari Kalam Allah dan Sunnah Rasul itu? Bukan apinja, bukan njalanja, bukan flamenja, tetapi abunja, debunja, asbesnja. Abunja jang berupa tjelak mata dan sorban, abunja yang mentjintai kemen
MAHASISWA, BANGKIT MELAWAN ATAU DIAM DITINDAS

MAHASISWA, BANGKIT MELAWAN ATAU DIAM DITINDAS

Opini Publik
Oleh : Sheila R.J, Mahasiswa Kriminologi UI Setiap revolusi atau perubahan sosial  di dunia ini, hampir pasti terdapat peran, baik itu sedikit maupun banyak, mahasiswa di dalamnya, termasuk perubahan-perubahan yang terjadi di negeri Indonesia. Mahasiswa adalah ibarat sang penolong bagi mereka yang menginginkan perubahan dan sebaliknya petaka bagi mereka yang berkuasa. Sepertinya, sejarah terlanjur mempercayakan kepada pemuda mahasiswa untuk membuat perubahan. Namun, belakangan ini gerakan mahasiswa "gaungnya" seperti tidak terdengar lagi. Mereka sibuk dengan dunia nya sendiri. Lupa akan tridharma perguruan tinggi yang menuntut agar mahasiswa mengamalkan segenap tenaga dan pikirannya demi kesejahteraan rakyat. Terlena dengan hingar bingar yang ditawarkan oleh imperialis. Melihat kembali