Wednesday, May 23Kita mulai dari sini...

Opini Publik

Democrazy, Psikiater Laris Manis

Democrazy, Psikiater Laris Manis

Kronik, Opini Publik
Oleh: Abu Duda (Penggiat Medsos)   Menjelang 20 tahun reformasi, kasihan masyarakat awam masih harus disibukkan menjadi pemain pinjaman dalam acara nyoblos lima tahunan. Acara nyoblos yang sering jadi lahan perpecahan. Sebagian politisi menilai keributan itu bagian dari dinamika demokrasi yang sehat. Ini jelas gombal. Pemahaman seperti itu segera kita harus koreksi bersama. Karena hingga sampai saat ini, berarti negara belum tuntas soal mau ke mana kita sebagai suatu bangsa. Hanya selalu berfikir soal pemenangan kader dari partai politik masing-masing, dengan agenda politik masing-masing pula. Untuk rakyat? Nampaknya nihil. Bukan barang baru kalau pilkada dan pemilu langsung selalu menjadi arena saling menjatuhkan antar lawan politik. Orang awam lagi-lagi jadi korban kebap...
Dilema Nasionalisme Kidz Zaman Now

Dilema Nasionalisme Kidz Zaman Now

Opini Publik
oleh: Abu Duda (Penggiat Medsos)   Di zaman now tak sedikit program dilakukan pemerintah zaman now untuk merangkul Kidz zaman now dalam upaya pengenalan pilar kebangsaan hingga internalisasi mengenai Pancasila. Pasalnya kidz zaman now diasumsikan terlalu jauh dari pemahaman fondasi kebangsaan dan cita-cita bangsa. Sehingga seringkali tudingan disasarkan pada kidz zaman now. Namun apakah ini salah si Kidz? Jika ingin adil dalam melihat fenomena kurangnya rasa nasionalisme dan pemahaman kebangsaan pada si Kidz, mari kita melihat pola internalisasi dari adult zaman old. Pasalnya si Adult tidak melakukan estafet pemahaman yang baik pada si Kidz ini. Adult zaman old dengan segala kegagahan di tengah panggung kekuasaan, sebagian besar dari mereka cenderung mempertontonkan retori...
Anomali atau Ketimpangan Nih Bu Sri?

Anomali atau Ketimpangan Nih Bu Sri?

Ekku, Opini Publik
oleh: Dwi Gema Kumara (Alumni Filsafat UI)   Saya langsung tersedak. Tersedak seketika karena begitu kagumnya melihat orang-orang pintar di negeri ini memang begitu pintar. Salah satunya menteri yang katanya kebanggaan saat ini, Sri Mulyani yang disebut Kwik Kian Gie merupakan salah satu kader mafia Berkeley. Dengan segala gudang prestasi di karirnya, satu hal yang membuat saya terkagum adalah keahliannya memilih diksi. Permainan satu kata, namun memiliki dampak opini publik yang fundamental. Sri Mulyani mengungkapkan bahwa lesunya daya beli masyarakat yang terjadi akhir-akhir ini merupakan gejala anomali di tengah meningkatnya pertumbuhan ekonomi nasional di kuartal ketiga tahun ini. "Konsumsi rumah tangga yang 4,93% kami lihat secara hati-hati. Di satu sisi inflasi sanga...
Mulai Banyak Benteng Pancasila Gadungan

Mulai Banyak Benteng Pancasila Gadungan

Ideologi, Opini Publik, Polkum
oleh: Sarlan Abimanyu   Jujur saja, semakin hari saya semakin gatal pada berbagai kelompok yang menjadi benteng Pancasila 'gadungan'. Kenapa saya pakai kata gadungan? Toh kita dapat tes saja bagaimana kelompok-kelompok yang merasa ber-Pancasila akan gagap bicara tentang Pancasila secara das sollen dan das sein. Pancasila yang sering dikumandangkan hanya Pancasila jargon. Tanpa mengerti bahwa pemahaman poin-poin dalam Pancasila itu tidak pernah bebas dari sebuah konteks. Apa konteks yang dimaksud? Yaitu UUD 18 Agustus 1945. Karena poin-poin yang kita kenal sebagai 5 poin azas itu (sehingga disebut Panca, yang artinya lima) berada di dalam Pembukaan UUD 1945 yang berkedudukan sebagai staatfundamentalnorm.  Maka dari itu konsekuensi dalam sebuah aturan konsitusi berlaku hira