Wednesday, January 17Kita mulai dari sini...

Kronik

Kronika

Bukan Berbasiskan SARA, Namun Mari Menilai Kinerja Gubernur AHOK

Bukan Berbasiskan SARA, Namun Mari Menilai Kinerja Gubernur AHOK

Kronik, Polkum
oleh: Rachmad P Panjaitan (Ketum PP FMN) “Masa lalu menujukkan, bahwa Politik Devide et impera  Kolonialis Belanda sangat efektif menghancurkan persatuan dan perjuangan rakyat untuk meraih Kebebasan” Perbedaan Suku, Agama dan Ras di Indonesia merupakan keanekaragaman sekaligus sebagai kekayaan yang tidak ternilai harganya bagi masyarakat. Bayangin saja begitu luar biasanya kemajemukan di Indonesia. Menurut sensus BPS ada sekitar 1.340 banyaknya suku di Indonesia. Sementara itu, Indonesia mempunyai 748 bahasa daerah (Bahasa Ibu) yang meliputi sekitar 17.508 pulau yang tersebar dari wilayah Barat sampai Timur.  Dan ada 6 agama yang diakui oleh pemerintah. Bahkan pra masuknya agama Hindu, Islam, Budha, Katolik, Protestan dan Kong Hu Cu di Nusantara, sudah banyak aliran kepercayaan di set
Fenomena Dimas Kanjeng dan Degradasi Nilai-Nilai Pancasila

Fenomena Dimas Kanjeng dan Degradasi Nilai-Nilai Pancasila

Ideologi, Kronik
Dimas Kanjeng Taat Pribadi beberapa waktu belakangan ini gencar diberitakan dan diperbincangkan di dunia maya maupun dunia nyata membuatnya begitu fenomenal. Berawal dari kasus pembunuhan terhadap pengikutnya karena membocorkan penipuan mengenai kegiatan-kegiatan di pedepokan yang disinyalir dapat menggandakan uang dan emas. Puluhan bahkan ratusan orang menjadi korban dari penipuan yang berkedok dapat menggandakan uang dan emas. Hal tersebut sangat miris apabila dikaitkan dengan nilai-nilai ideologi bangsa yaitu Pancasila. Masyarakat yang saat ini hidup dalam tantangan globalisasi seakan terjebak dalam suatu kondisi  yang berakibat terjadinya degradasi nilai-nilai Pancasila. Di era globalisasi dewasa ini telah banyak diramalkan oleh para cendekiawan dunia bahwa keberlangsungan dan eksisten
Awkarin dan Dekadensi Generasi Digital

Awkarin dan Dekadensi Generasi Digital

Ideologi, Kronik
Hari-hari ini kita tak asing lagi dengan sosok Awkarin ataupun Anya Geraldine yang namanya melambung sebagai selebram. Terlebih pemberitaan yang kian memanas akibat postingan-postingan gambar hot mereka yang menampilkan kehidupan pribadi banyak diprotes. Tidak sedikit komentar ditujukan pada mereka. Terutama hal di mana rasa ke-Indonesiaan mereka? Mengapa ke-Indonesia-an? Tentu hal ini menjadi hal yang sangat langka di kalangan generasi muda digital saat ini. Yang dengan mudah menyempitkan makna "kebebasan berekspresi". Padahal dalam sebuah konteks sebuah karya, tentunya nilai-nilai estetika lebih elok bila dipadankan dengan nilai-nilai etika, serta lokalitas di mana kita berpijak. Tentu dari fenomena Awkarin,  kita dapat lihat bagaimana westernisasi yang kebablasan, sehingga menggerus
Nusantao, Nenek Moyang Bangsa Indonesia?

Nusantao, Nenek Moyang Bangsa Indonesia?

Kronik
Siapakah Bangsa Indonesia? Dari manakah asalnya? Pertanyaan ini pasti mengganggu benak siapapun yang mendamba akan keaslian. Nyatanya, buku-buku sejarah mengajarkan bahwa sejarah Indonesia baru dimulai pada sekitar abad ke-5 M ketika ditemukannya bukti-bukti tertulis berupa prasasti-prasasti dalam bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa, yang berasal dari India. Jika ditarik lebih jauh lagi, maka ditemukanlah kisah tentang migrasi dari pusat-pusat peradaban kuno di Cina Selatan ke Asia Tenggara, sampai ke kepulauan Nusantara. Lebih jauh lagi, maka didapati kisah tentang temuan fosil manusia purba setengah kera di lembah Bengawan Solo. Lantas siapa sebenarnya Bangsa Indonesia, jika demikian? Adakah keaslian dalam sejarah Bangsa Indonesia? Semua kenyataan ini tentu mengecewakan bagi mereka ya...