Monday, November 20Kita mulai dari sini...

Ideologi

Ideologi

Kembalikan Pancasila Pada Roh Dan Spiritnya

Kembalikan Pancasila Pada Roh Dan Spiritnya

Ideologi, Opini Publik
Oleh: Jacky Jamrewav, S.H. Penulis adalah Ketua DPC GMNI Jakarta Pusat   Dinamika pertumbuhan kehidupan dan perkembangan kehidupan nasional Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia saat ini menunjukan sebuah fenomena pertentangan dan konflik yang sangat tinggi. Fenomena pertentangan dan konflik tersebut nampak dalam sistem dan hukum negara yang diatur dan dijalankan untuk melanggengkan penguasaan kaum yang kuat terhadap yang lemah. Pembangunan negara yang dijalanan berdasarkan kebutuhan pasar dan kepentingan investor asing juga menunjukan sisi keberpihakan pemerintah yang lebih diprioritaskan pada kepentingan dan kebutuhan kaum kapitalis dan melupakan tugas serta tanggungjawabnya untuk menjalankan amanat penderitaan rakyat Indonesia yang diinginkan dan dibutuhkan oleh...
Pancasila Bukan Sekedar Teriak Bhineka

Pancasila Bukan Sekedar Teriak Bhineka

Ideologi
Oleh: Dwi Gema Kumara Penulis adalah alumnus Filsafat UI, Pengkaji Pancasila dan UUD 1945   Baik kita sadari maupun tidak, masyarakat Indonesia kini seakan kehilangan arah dan tujuan. Jika kita insyafi bersama bahwa diantara kita semua, kini, antara pemerintah dengan rakyat, antara individu dengan individu, antara individu dengan kelompok, antara kelompok dengan kelompok saling menerka dan saling curiga. Tumbuh lebih banyak rasa ketidakpercayaan dibanding rasa saling percaya. Hal ini tentunya menimbulkan ketidaknyamanan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.Tak sedikit rasa ketidaknyamanan itu  berujung pada terjadinya konflik di antara kita sebagai anak bangsa. Kita tidak bisa menafikan bahwa keresahan ini banyak pemicunya. Saat ini, dalam aspek ekonomi k
Pancasila Digusur Mafia Kekuasaan

Pancasila Digusur Mafia Kekuasaan

Ideologi, Opini Publik
Nilai persatuan bangsa Indonesia kian hari semakin melemah. Dimulai dengan Pilkada serentak yang terjadi di seluruh penjuru Indonesia. Dengan dalih menginginkan “demokrasi” dan “one man one vote”. Dalam suasana persaingan kekuasaan, isu agama muncul, isu antar golongan ras dan etnis memanas. Bangsa Indonesia pun terpecah-belah. Masyarakat awam dan buta politik dipaksa memilih yang tidak dipahaminya. Demi mendukung salah satu pasangan calon, konflik-konflik horizontal terus bermunculan di tengah masyarakat Indonesia. Kenapa harus terpecah belah? Apa sebenarnya makna dari “demokrasi” yang ideal? PNS/birokrat yang telah bertahun-tahun mengabdi dengan kinerja yang baik malah tidak dihargai. Kalah dengan para pemilik modal yang dekat dengan partai politik. Nampaknya bangsa Indonesia sudah melup
Globalisasi: Neoliberalisme Dengan Bungkus Yang ‘Manusiawi’

Globalisasi: Neoliberalisme Dengan Bungkus Yang ‘Manusiawi’

Ideologi
Liberalisme kini memang menjadi hegemoni filsafat tak tertandingi, dalam arti "ia sedikit-banyak menjadi sebuah standar absolut bagi evaluasi moral dan politik hari-hari ini", segenap masyarakat dibagi menjadi liberal dan non-liberal, dan yang belakangan tersebut dianggap sebagai tidak liberal (illiberal)." Semua negara ingin disebut demokratis, dewasa ini juga ada semacam sindrom bahwa semua negara ingin disebut liberal (dalam artian ini kecenderungan mengartikan liberal sama dengan demokratis) alih-alih melalui narasi Globalisasi agar mudah dan nyaman masuk di telinga para awam. (lihat Budiarto, Demokrasi Disensus).   Oleh karena itu, terjadilah euforia liberalisasi ekonomi, baik stabilisasi makroekonomi yang ditempuh lewat keseimbangan fiskal, namun lebih menekan anggaran kep...