Wednesday, January 17Kita mulai dari sini...

Ideologi

Ideologi

Fenomena Dimas Kanjeng dan Degradasi Nilai-Nilai Pancasila

Fenomena Dimas Kanjeng dan Degradasi Nilai-Nilai Pancasila

Ideologi, Kronik
Dimas Kanjeng Taat Pribadi beberapa waktu belakangan ini gencar diberitakan dan diperbincangkan di dunia maya maupun dunia nyata membuatnya begitu fenomenal. Berawal dari kasus pembunuhan terhadap pengikutnya karena membocorkan penipuan mengenai kegiatan-kegiatan di pedepokan yang disinyalir dapat menggandakan uang dan emas. Puluhan bahkan ratusan orang menjadi korban dari penipuan yang berkedok dapat menggandakan uang dan emas. Hal tersebut sangat miris apabila dikaitkan dengan nilai-nilai ideologi bangsa yaitu Pancasila. Masyarakat yang saat ini hidup dalam tantangan globalisasi seakan terjebak dalam suatu kondisi  yang berakibat terjadinya degradasi nilai-nilai Pancasila. Di era globalisasi dewasa ini telah banyak diramalkan oleh para cendekiawan dunia bahwa keberlangsungan dan eksisten
Kesaktian Pancasila. Perayaan Pancasila Versi Orde Baru?

Kesaktian Pancasila. Perayaan Pancasila Versi Orde Baru?

Ideologi
Tajuk Rencana Harian Kompas pada 1 Oktober 1996—tepat 20 tahun yang lalu—berjudul “Bagaimana mencoba menjelaskan menjadinya Pancasila sakti.” Tajuk tersebut—kurang-lebihnya—berupa suatu argumentasi mengenai pentingnya 1 Oktober tiap tahunnya diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Pada intinya, ia adalah peringatan kemenangan ideologi Pancasila atas ideologi lain yang mencoba merongrong persatuan dan kesatuan bangsa, yakni—terutama—komunisme. Tajuk tersebut lantas menjelaskan betapa langkah-langkah politik Partai Komunis Indonesia (PKI) pada waktu itu menimbulkan suasana mencekam yang penuh kengerian bahkan kekejaman. Hanya berkat pertolongan Tuhan semata, rakyat bahu-membahu bersama Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, (ABRI)—diilhami oleh keyakinan akan kebenaran Pancasila—akhi
Awkarin dan Dekadensi Generasi Digital

Awkarin dan Dekadensi Generasi Digital

Ideologi, Kronik
Hari-hari ini kita tak asing lagi dengan sosok Awkarin ataupun Anya Geraldine yang namanya melambung sebagai selebram. Terlebih pemberitaan yang kian memanas akibat postingan-postingan gambar hot mereka yang menampilkan kehidupan pribadi banyak diprotes. Tidak sedikit komentar ditujukan pada mereka. Terutama hal di mana rasa ke-Indonesiaan mereka? Mengapa ke-Indonesia-an? Tentu hal ini menjadi hal yang sangat langka di kalangan generasi muda digital saat ini. Yang dengan mudah menyempitkan makna "kebebasan berekspresi". Padahal dalam sebuah konteks sebuah karya, tentunya nilai-nilai estetika lebih elok bila dipadankan dengan nilai-nilai etika, serta lokalitas di mana kita berpijak. Tentu dari fenomena Awkarin,  kita dapat lihat bagaimana westernisasi yang kebablasan, sehingga menggerus
Kemunduran Jatidiri Bangsa dan Solusinya

Kemunduran Jatidiri Bangsa dan Solusinya

Ideologi
Dunia saat ini memasuki zaman teknologi, dimana semua dapat dilakukan melalui teknologi. Hal tersebut merupakan suatu dampak era globalisasi yang tujuannya adalah membentuk masyarakat global. Di lain pihak timbul permasalahan di era globalisasi saat ini yang berujung pada terkikisnya jatidiri bangsa. Indonesia merupakan Negara merdeka, berdaulat, adil, dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 maka dengan demikian langkah yang harus dipertahankan adalah memelihara jatidiri bangsa Indonesia. Terkikisnya jatidiri bangsa Indonesia bermula dari  tindakan kaum reformis yang melakukan amandemen UUD 1945 yang jauh dari nafas pancasila sebagai jatidiri bangsa. UUD 1945 yang diamandemen sebanyak 4 (empat) kali oleh kaum reformis membuat bangsa Indonesia kehilangan jatidirinya. Akibatnya, ba