Saturday, November 18Kita mulai dari sini...

Bangsa yang Krisis

196851_03080827022015_krisis_panganDalam beberapa diskusi politik dan kebudayaan hari-hari ini, setidaknya ada 3 (tiga) wilayah permasalahan. Pertama, kenyataan minimya dan tidak adanya teladan yang baik dari para pemimpin kita, sehingga sia-sia lah usaha pendidikan nilai dan karakter sebagai solusi pintasnya. Kedua, gejala putus asa akan adanya perbaikan dalam hidup berbangsa dan bernegara pasca reformasi yang kurang lebihnya berumur 18 (delapan belas) tahun, padahal pada awalnya diharapkan mampu memberikan kebaharuan dalam cara bernegara kita dalam sistem politik yang demokratis dengan pembagian 3 (tiga) kekuasaan yang saling mengawasi antara yudikatif, legislatif dan eksekutif. Di tambah dengan maraknya kasus korupsi serta politik transaksional yang terus menggebu untuk berlomba memenuhi kepentingan ego partai politik. Akibatnya mereka lebih banyak berkelahi dan saling menjatuhkan ketimbang menyuarakan aspirasi dan kepentingan rakyat. Kasus-kasus kemiskinan, ketidakadilan seperti penggusuran lahan petani, reklamasi, vaksin palsu dan banyak lagi. Lokasi permasalahan ketiga ada pada soal cara bagaimana kita dengan gampangnya mencari penyelesaian krisis bangsa ini selalu lewat “logika manajemen teknis”.

Kemudian seiring dengan hal tersebut, apa yang sebenarnya terjadi di bangsa kita secara kultural? Kita sedang mengalami apa yang disebut sebagai “disorientasi nilai-nilai”. Hal ini dapat kita lihat pada fenomena-fenomena sebagai berikut. Fenomena pertama, kita sedang mengalami disorientasi mengenai apa yang benar, apa yang baik, dan apa yang indah dalam hidup ini. Telah terjadi perubahan cara penanaman dan pembatinan mulai secara edukasi dari tradisi atau model mendongeng dan narasi lisan secara afektif di keluarga-keluarga sebelum tidur untuk anak-anak ke perubahan idola pujaan eksotis selebritis dalam media digital yang membombardir terus-menerus promosi akan  hidup yang enak, gampang, sukses dengan jalan pintas tanpa perjuangan keringat, tanpa proses sehingga dilupakanlah bahwa hakikat hidup adalah proses.

Fenomena kedua, orientasi hidup berbangsa kita untuk membangun karakter bangsa berdasarkan kemanusian, religiusitas, dan keadilan sosial dalam deliberasi demokratis untuk mengambil keputusan dalam mencapai tujuan bernegara dengan melaksanakan nilai-niilai dasar Pancasila serta UUD 1945 Asli[1] di sana-sini dilemahkan oleh verbalisme, sloganisme, dan terlalu banyak wacana namun miskin keteladanan dan contoh hidup. Ketiga, uang sebagai nilai tukar telah secara reduksionis menukar semua nilai-nilai immaterial dan spiritual sehingga uang menjadi satu-satunya nilai tukar material bendawi. Semua dikalkulasi dan dihitung dengan uang. Cara hidup masyarakat yang gotong royong, saling asah, asih, asuh tidak lagi tampak dalam kehidupan berbangsa kita. Maka logislah bila yang krisis adalah nilai-nilai acuan hidup di ranah kebudayaan, karena nafas dan amanat Pancasila serta UUD 1945 asli seolah-olah kita kubur secara sengaja. Dan generasi muda dijauhkan dari nilai-nilai lokalitas serta sejarah bangsanya. Inilah sebuah krisis. Krisis kita sebagai bangsa.

[1] Perlu diketahui UUD dasar sekarang yang kita pakai adalah UUD dasar 2002, karena batang tubuhUUD45 telah diubah empat kali melalui amandemen.

Leave a Reply

%d bloggers like this: