Saturday, November 18Kita mulai dari sini...

Awkarin dan Dekadensi Generasi Digital

awkarin-dan-anya-geraldine_20160925_192108Hari-hari ini kita tak asing lagi dengan sosok Awkarin ataupun Anya Geraldine yang namanya melambung sebagai selebram. Terlebih pemberitaan yang kian memanas akibat postingan-postingan gambar hot mereka yang menampilkan kehidupan pribadi banyak diprotes.
Tidak sedikit komentar ditujukan pada mereka. Terutama hal di mana rasa ke-Indonesiaan mereka?
Mengapa ke-Indonesia-an? Tentu hal ini menjadi hal yang sangat langka di kalangan generasi muda digital saat ini. Yang dengan mudah menyempitkan makna “kebebasan berekspresi”.
Padahal dalam sebuah konteks sebuah karya, tentunya nilai-nilai estetika lebih elok bila dipadankan dengan nilai-nilai etika, serta lokalitas di mana kita berpijak. Tentu dari fenomena Awkarin,  kita dapat lihat bagaimana westernisasi yang kebablasan, sehingga menggerus nilai-nilai luhur kita dalam berbangsa yang menjunjung tinggi tentang sesuatu hal yang dianggap “beradab” oleh masyarakat kita.
Hal ini juga menjadi pecutan terutama bagi pola didik baik secara informal maupun formal. Minimnya penanaman budi pekerti serta lokalitas bangsa yang terumuat dalam cita-cita luhur Pancasila kini seakan jadi barang langka di generasi 90an keatas.
Lalu bagaimana kita dapat keluar dari situasi seperti ini? Cukupkah dengan promosi pendidikan watak yang gencar digalakan sekarang ini? Ini semua O.K, namun janganlah dilupakan bahwa pendidikan karakter tetaplah sebuah proses panjang dalam kehidupan. Maka tidaklah cukup hanya memasang poster, baliho, slogan, iklan serta show. Proses pendidikan karakter butuh pemahaman (sebagai knowledge); lalu menyangkut soal laku praksis; kemudian membatinkan menjadi sikap etis hidup dan menghidupinya secara nyata.
Hal ini mesti disikapi serius terutama lembaga negara yang menangani bidang pendidikan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan harus dapat menyusun berupa langkah strategis penanaman lokalitas, nilai-nilai kebangsaan yang saat ini hilang dalam kurikulum. Tentunya dengan cara-cara yang lebih mudah diterima oleh generasi muda saat ini.

 

Leave a Reply

%d bloggers like this: