Wednesday, October 18Kita mulai dari sini...

Ancaman Kedaulatan Pangan dan Energi

Kebanggaan kita sebagai bangsa terus dirundung ujian serius. Korupsi pejabat negara bertubi-tubi ditelanjangi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) adalah bagian terberatnya. Sementara itu, kenyataan bahwa semakin hari berbagai kebutuhan hidup kita didapat justru melalui impor dari negara lain menambah berat rasa di hati. Bayangkan, Indonesia yang wilayahnya melulu dikelilingi lautan justru mengimpor garam dari Singapura, Selandia Baru dan Australia. Beras yang kita konsumsi pun diimpor dari Vietnam dan Myanmar. Begitu pula daging sapi yang kerap diimpor dari Australia.

Ini tentu menjadi ironis jika melihat fakta bahwa Indonesia merupakan negara dengan kekayaan alam yang melimpah, mulai dari pertanian, perikanan, hasil hutan sampai tambang. Sumber energi dalam negeri pun sesungguhnya amat kaya, seperti minyak bumi, batu bara, dan gas alam. Sumber mineral seperti emas, tembaga, nikel, bijih besi tak kurang-kurangnya. Sayangnya semua itu tidak ada artinya jika tidak dikelola oleh orang-orang yang memiliki budi pekerti yang baik, dan orang-orang yang mau berpikir panjang untuk keberlangsungan bangsa dan negara.

Kenyataannya, Indonesia yang memiliki luas 1.904.569 km2 saat ini hanya memiliki pendapatan domestik bruto (PDB) per kapita USD 5.300. Bandingkan dengan Singapura yang luas negaranya hanya 710 km2, sedangkan PDB per kapitanya sebesar USD 61.000! Perlambatan pertumbuhan ekonomi di dalam negeri sudah terjadi selama empat triwulan berturut-turut. Bahkan sudah turun di bawah 6 persen atau tepatnya 5,8 persen pada triwulan kedua 2013. Pertumbuhan PDB di bawah 6 persen ini pertama kalinya terjadi dalam kurun waktu 10 triwulan terakhir.

Jika ditanya akar masalahnya, sungguh kompleks jawabannya. Akan tetapi, sesungguhnya tiap negara memiliki masalah yang tak kalah beratnya. Hanya saja, mengapa mereka cepat bangkit dari keterpurukan sedangkan kita tidak? Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Singapura dan Israel adalah negara-negara yang sumberdaya alamnya sama sekali bukan tandingan Indonesia. Namun, rakyatnya bahu-membahu memaksimalkan sumberdaya manusia, melakukan beragam inovasi, mendorong wirausaha yang kemudian berdampak pada bergulirnya roda ekonomi. Sementara, Indonesia yang kekayaan alamnya melimpah ini justru sibuk menjual bahan mentah ke negara lain, lalu mengimpor barang jadi, sehingga nilai tambahnya dinikmati negara lain. Menyedihkan. Lalu apa yang harus kita lakukan untuk mengembalikan kebanggaan sebagai bangsa besar yang berdaulat?

Dengan jumlah penduduk yang sangat besar Indonesia kiranya tidak punya banyak pilihan kecuali mulai memprioritaskan ketahanan pangan dan energi. Tanpa keduanya, Indonesia akan menjadi sangat rentan ditekan kepentingan asing. Saat ini setiap tahun Indonesia mengimpor gandum senilai USD 1,5 milliar, kedelai USD 2,5 miliar, beras USD 1,5 miliar, serta jagung USD 1,02 miliar. Jika ditotal, kita mengalami defisit untuk tujuh komoditas pangan utama senilai USD 9,4 miliar per tahun atau setara dengan 90 triliun Rupiah per tahun.

Sedangkan, untuk bahan bakar minyak, (BBM) Indonesia setiap tahunnya mengimpor sebesar USD 14 miliar atau setara dengan 140 triliun Rupiah. Transaksi perdagangan luar negeri—ekspor barang dikurangi impor barang—sudah mengalami defisit sejak 2012. Baru separuh tahun pertama 2013, defisit perdagangan sudah menggelembung hampir dua kali lipat menjadi USD 3,3 miliar. Sebelum 2012 transaksi perdagangan tercatat selalu menikmati surplus. Mencermati data ini, tidak bisa lain artinya, hajat hidup kita sepenuhnya sudah di tangan orang lain!

Leave a Reply

%d bloggers like this: