Monday, November 20Kita mulai dari sini...

Amandemen UUD 1945 dan Hilangnya Gotong Royong

Dalam sebuah kehidupan berbangsa dan bernegara, kunci utama cita-cita bangsa terdapat pada sebuah ideologi bangsa sebagai pandangan hidup bersama. Indonesia sudah jelas memiliki cita-cita bangsa yang berbeda dengan bangsa lainnya melalui Pancasila dan UUD 1945 sebagai landasan hukum tertinggi negara.

Undang-Undang Dasar sebagai bentuk oprasional konseptual dari sebuah ideologi tentu saja menentukan bagaimana cara hidup masyarakat. Sebagai State Apparatus Ideology tidak bisa tidak akan mempengaruhi sistem sosial budaya masyarakatnya.

Secara antropologis, ideologi dan aturan dasar bangsa kita merupakan bentuk abstraksi dari hubungan dialektis sebuah realitas subjektif pendiri bangsa dengan realitas objektif masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang hidup dengan sifat kekeluargaan yang tinggi dengan budaya gotong royong. Dengan state aparatus ideology yang berupa UUD 1945 yang berlandaskan Pancasila, iklim gotong royong serta musyawarah/mufakat lah yang hendak dipertahankan dan dikembangkan.

Namun ketika suatu fondasi berbangsa diubah, apa yang terjadi? Tentu cara hidup masyarakatnya akan berubah juga. Perubahan UUD 1945 tidak banyak disadari telah membentuk habitus baru dari masyarakat yang bergotong royong menjadi masyarakat yang individualistis. Hal ini terjadi karena produk kebijakan publik yang diturunkan akibat amandemen UUD 1945 tidak mengedepankan azas gotong royong itu. Membawa masyarakat pada sebuah atmosfer yang lebih memikirkan diri sendiri ketimbang saling asah, asih, asuh di dalam kehidupan sehari-hari.

Artinya perubahan yang tejadi dalam dimensi kultural sangatlah mengkhawatirkan. Karena bangsa kita yang mejemuk ini sudah mempunyai tujuan bersama yaitu mengupayakan keadilan dan kesejahteraan sosial.

Para pendiri NKRI sadar betul bahwa apabila sistem yang cenderung liberalistik diperkenankan berkembang di Indonesia, maka lambat laun gotong royong sebagai local genius bangsa Indonesia akan hilang. Lebih-lebih, bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia akan pecah.

Dengan demikian, sudah semestinya perubahan terhadap UUD45 yang terjadi pada tahun 1998-2002 yang menghasilan UUD NRI 1945 (atau lebih tepatnya UUD 2002), harus segera dikaji ulang. Hal tersebut demi mengembalikan nilai-nilai gotong royong yang semakin hari semakin langka.

(Felix Siregar)

Leave a Reply

%d bloggers like this: