Wednesday, December 13Kita mulai dari sini...

72 Tahun Sejak Proklamasi: Merdeka Itu Untuk Sejahtera

Oleh: Dwi Gema Kumara

Penulis merupakan alumnus Filsafat Universitas Indonesia

 

Dalam pergolakan Revolusi Kemerdekaan sejak proklamasi 1945, maka rakyat Indonesia telah berhasil membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia yang bebas dan berkedaulatan rakyat dari Sabang sampai Merauke. Negara kesatuan itu adalah Negara Kebangsaan.

Kemerdekaan yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 itu mengandung pesan luhur bahwa kedepannya seluruh elemen bangsa Indonesia mengisi kemerdekaan yang telah diraih itu dengan pembangunan. Membangun mempunyai arti yang sangat luas, yaitu membangun dalam segala bidang kehidupan Negara dan masyarakat, membangun dalam bidang ekonomi, dalam bidang politik dan sosial, dalam bidang pendidikan dan kebudayaan dan yang tidak kurang pentingnya adalah membangun bidang spiritual dan religiusitas, guna mencapai penghidupan yang berbahagia bagi seluruh Rakyat Indonesia. Oleh karenanya sudah menjadi kewajiban bagi setiap warga Negara tanpa pengecualian, karena Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 itu adalah manifestasi dari perjuangan seluruh Bangsa Indonesia yang penuh dengan pengorbanan.

Yang kita harus sadari dan dicamkan bahwa Revolusi Kemerdekaan ini belum selesai. Sehingga tidak ada alasan apapun untuk tidak memperjuangkan apa yang menjadi amanat cita-cita berdirinya Bangsa Indonesia dalam UUD 1945 untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Yang mana pelaksanaannya telah diberi koridor oleh para pendiri bangsa atas peluh dan darah para pejuang yang telah gugur melalui pasal-pasal yang ada dalam UUD 18 Agustus 1945 untuk diperjuangkan pelaksanaannya.

Kita tahu bahwa UUD 1945 pernah diubah sebagai landasan konstitusi, lalu dikembalikan dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Namun yang perlu dipahami, dengan dekrit itu tentu belum cukup, karena yang paling penting selanjutnya adalah tentang bagaimana menjalankan UUD 1945 lintas generasi. Belum juga dijalankan dengan konsisten pasca dekrit, UUD 1945 malah diganti lagi melalui amandemen sejak reformasi. Sehingga sebetulnya sampai hari ini menjelang 72 tahun merdeka, belum sedikit pun bangsa berjalan di atas relnya yang asli sebagai amanat proklamasi.

Demikian menjadi tugas kita semua untuk menjalankan amanat perjuangan proklamasi yang mana cita-cita kemerdekaan Indonesia dikukuhkan dengan Undang-Undang Dasar 1945 yang mana Negara ini berkedaulatan rakyat dengan berlandaskan kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang dipimpin oleh khidmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonensia.

Kelemahan dewasa ini, dijajah bangsa sendiri

Tantangan 72 tahun menjelang kemerdekaan, yang akan jatuh pada 17 Agustus 2017 yang mana anak-anak bangsa sangatlah lemah dalam menghayati sejarah dan jati diri bangsanya. Arus globalisasi yang menurut Herny Kissinger (Trinity College, 1998) merupakan nama lain dari dominasi Amerika, jika kita renungkan telah membuat generasi muda kini terputus dengan sejarah bangsanya. Liberalisme tumbuh subur mengkooptasi nilai-nilai fondasi bangsa yang termuat dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945..

Terbaca hingga hari ini, tunas-tunas muda bangsa sudah terkotak-kotak dalam sebuah kepentingan partai-partai dan kelompok-kelompok tertentu saja dalam perjuangannya. Padahal Indonesia bukanlah Negara Partai walaupun memberikan ruang untuk partai. Partai dan organisasi lainnya kini umumnya menjelma bukan sebagai kendaraan memperjuangkan cita-cita bangsa Indonesia yang ada dalam UUD 1945, namun cenderung menjadi alat dominasi kekuasaan segelintir orang. Di samping itu jual-beli kekuasaan dengan uang menjadi tontonan rutin yang kerap ditolerir. Korupsi kian berpolifrasa di era yang semangat bergulirnya disebut-sebut anti KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) ini.

Kita juga dapat melihat mudah sekali rakyat dibeli suaranya dengan janji-janji semu setiap kala ‘demokrasi’ katanya dipestakan setiap 5 tahun, dengan waktu berdemokrasi tak lebih dari 5 menit. Tokoh-tokoh politik ‘karbitan’ bermunculan. Budaya rakus dan mau menang sendiri semakin tidak dapat dibendung dan menjadi hal yang lumrah. Yang tidak kalah mengkhawatirkan adalah semakin minimnya nilai-nilai religiusitas dihadirikan dalam pola pembangunan masyarakat. Kini yang tersisa tinggallah hutan-hutan beton sebagai narasi tunggal arti sebuah pembangunan.

Lebih jauh  dari itu dalam berbagai aspek berbangsa dan bernegara semakin bergantung pada bantuan negara lain, padahal kalau dilihat-lihat pejabat elit pemerintahan mulai dari eksekutif, legislatif, hingga yudikatif,  kekayaannya semakin bertambah seiring hutang negara yang bertambah. Bagamana tidak, setiap punya jabatan elit, keglamoran dan hingar bingar kehidupan pejabat negeri ini menjadi sebuah suguhan rutin sinema layar kaca. Sedangkan di sudut lain orang harus berjalan puluhan kilometer untuk hanya mendapatkan air bersih.

Penjajahan terhadap bangsa ini sudah berubah bentuk, fenomena-fenomena tadi merupakan bentuk penjajahan terhadap bangsa oleh bangsanya sendiri,  itu yang perlu disadari. Tentu ini menjadi pekerjaan rumah untuk kita semua tanpa terkecuali.

 

Amanat penderitaan rakyat

Akhirnya, kita semua harus kembali berkaca dari apa yang telah terjadi kurun waktu 72 tahun setelah proklamasi. Yang mana kita akan menemukan suatu titik sepakat tentang kondisi umum perjuangan bangsa Indonesia yang semakin menjauh dari cita-cita diproklamasikannya kemerdekaan.

Untuk mengingat itu semua, khususnya kepada para pemuda kita, tunas-tunas muda bangsa Indonesia: Janganlah lupa akan penderitaan perintis dan pelopor kemerdekaan bangsa ini.

Mereka telah mendahului kita sekalian!

Mereka tidak mewariskan kemewahan bagimu pribadi masing-masing. Melainkan mereka mewariskan amanat penderitaan rakyatmu; amanat yang mengandung pesan yakni:

Pertama: Jagalah Negara Kesatuan Republik Indonesia,

Kedua: Bagunlah masyarakat gotong royong, adil dan makmur, bebas dari pengisapan dan kemelaratan.

Peganglah terus dua amanat penderitaan ini. Peganglah teguh laksana obor yang diserahkan pada kita untuk kita nyalakan terus menyinari jalan perjuangan Bangsa dan Negara.

Bersatu untuk merdeka. Merdeka untuk sejahtera.

 

 

 

Leave a Reply

%d bloggers like this: