Saturday, November 18Kita mulai dari sini...

#313 Sedikit-sedikit Dituduh Makar, Lebih Dari Orde Baru

Ribuan orang mulai berkumpul di depan Patung Kuda di area Medan Merdeka untuk berjalan menuju Istana Negara dari Masjid Istiqlal, namun jumlahnya lebih sedikit dari demo-demo sebelumnya.

Sebelum aksi 313, Polda Metro Jaya sudah menangkap empat orang terkait dugaan upaya makar. Salah satu yang ditangkap adalah Muhammad Al Khaththath, Sekjen Forum Umat Islam, penanggungjawab aksi 313.

Seperti diketahui, bersama empat orang berinisial ZA, IR, V, dan M, Al-Khaththath ditangkap atas dugaan pemufakatan makar.

“Dari keterangan penyidik, penangkapan tidak ada hubungannya dengan demo yang berlangsung,” ujar Rikwanto di kompleks Mabes Polri, Jakarta, Jumat (31/3/2017).

Al-Khaththath adalah koordinator unjuk rasa 313 yang digelar Jumat ini.

Rikwanto menjelaskan, kalaupun penangkapan terjadi dalam waktu yang berdekatan dengan pelaksanaan aksi, itu hanya persoalan teknis. Polisi menduga mereka menghasut para peserta aksi untuk menduduki gedung DPR/MPR RI.

Dari kejadian ini timbul pertanyaan besar, manipulasi apalagi yang hendak dilakukan rezim untuk mengerdilkan kedaulatan rakyat? Pasalnya, bukan hanya kali ini, kasus-kasus sebelumnya seperti penangkapan Rachmawati, Sri Bintang Pamungkas dengan dugaan yang sama namun tidak terbukti.

Bukankah hak rakyat untuk menduduki rumahnya yaitu gedung MPR/DPR jika pemerintahan sudah tidak berjalan dengan semestinya. Bukankah sesungguhnya rakyatlah yang memiliki kekuasaan dan kedaulatan tertinggi? Tetapi mengapa kedaulatan rakyat justru dikerdilkan, dengan isu-isu dan juga penangkapan-penangkapan yang tidak masuk akal pada setiap aspirasi masyarakat yang dapat memobilisasi orang banyak.

Lihatlah reformasi 1998, apakah itu bukan ‘makar’ kalau dalam versi makar Tim Kepolisian saat ini? Penguasa saat itu dipaksa turun karena dianggap sudah tidak becus dan tidak mementingkan kepentingan rakyat. Pemerintahan dianggap otoriter, lalu mahasiswa turun memenuhi gedung MPR/DPR melakukan ‘makar’ demi rakyat. Namun lagi-lagi, itulah bentuk kedaulatan tertinggi ada di tangan rakyat. Seharusnya pemerintah sadar diri ketika rakyatnya mulai marah. Bahkan rezim yang katanya ‘menakutkan’ itu akhirnya turun ketika rakyat menginginkannya turun.

Lalu, apakah rezim ini begitu takutnya sehingga memainkan pola-pola represif seperti ini? Ini lebih parah dari Orde Baru, namun dengan cara-cara yang terlihat lebih halus. Kedaulatan rakyat kini benar-benar telah dikebiri.

Sekarang masih adakah rumah kedaulatan rakyat itu? Rakyat ingin berkunjung kerumahnya, akan dituding makar.

(Fathul Baiquni)

Leave a Reply

%d bloggers like this: